-
Rentetan serangan rudal Iran di Selat Hormuz memicu ketakutan massal kru kapal tanker.
-
Volume lalu lintas kapal tanker minyak mentah dunia merosot ke titik terendah.
-
Bonus uang tidak lagi mampu membujuk pelaut melintasi jalur laut penuh ranjau.
Suara.com - Ketakutan massal kini melanda para kru kapal tanker internasional setelah rentetan serangan rudal Iran melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut kini berada dalam situasi terburuk akibat eskalasi militer yang kian tidak terkendali.
Penurunan drastis jumlah pelayaran mencerminkan kecemasan mendalam para pelaut yang menolak bertaruh nyawa di zona konflik. Blokade laut dan ancaman ranjau bawah air membuat koridor navigasi ini hampir mustahil untuk dilalui dengan aman.
Direktur Utama perusahaan jasa risiko maritim Marisks yang berbasis di Athena, Dimitris Maniatis, mengungkapkan kecemasan para pelaut di lapangan saat ini sudah melampaui batas wajar. Kondisi psikologis pekerja kapal menjadi faktor utama yang menghentikan pergerakan logistik global.
"Kita melihat pengurangan volume transit melalui Selat Hormuz dan saat ini kru kapal bahkan lebih khawatir daripada sebelumnya," kata Dimitris Maniatis dalam sebuah pengarahan Lloyd’s List Intelligence minggu kemarin dikutip dari CNBC Internasional, Senin (20/7/2026).
"Tidak ada yang mau bergerak," kata Maniatis.
Sedikitnya sembilan kapal telah menjadi sasaran serangan sejak 6 Juli lalu dalam upaya Iran memaksa kapal-kapal melintasi perairan teritorialnya. Langkah sepihak Teheran ini sengaja dirancang guna menghindari rute pesisir Oman yang dijaga ketat oleh militer Amerika Serikat.
Dampak dari agresivitas militer ini telah memakan korban jiwa dan luka-luka di kalangan pekerja maritim global. Satu pelaut tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan terhadap kapal tanker minyak mentah Al Bahyah di lepas pantai Oman pada hari Selasa.
Pada hari yang sama, sebelas pelaut juga mengalami luka-luka akibat serangan terhadap kapal tanker Mombasa B yang sedang menavigasi wilayah dekat Oman. Rentetan serangan mematikan ini menggunakan teknologi persenjataan berat yang menyasar langsung lambung kapal.
Kepala Keamanan BIMCO, Jakob Larsen, memaparkan jenis persenjataan yang dikerahkan dalam konfrontasi tersebut. Penggunaan senjata pemusnah ini menjadi alasan utama di balik penolakan para kru kapal untuk melaut.
Baca Juga: Krisis Air Mengintai Timur Tengah Setelah Pasukan Iran Sasar Pembangkit Desalinasi Air Kuwait
"Serangan Iran menggunakan rudal anti-kapal," kata Jakob Larsen.
Faktor finansial dan bonus kompensasi tinggi kini tidak lagi mampu membujuk para pelaut untuk memasuki wilayah perairan Hormuz. Rasa takut akan ancaman kematian akibat ledakan rudal atau ranjau laut telah mendominasi keputusan akhir dari setiap pelayaran.
"Semua ini beresonansi dengan para kru dan saat ini mereka tidak terlalu senang untuk pergi tidak peduli apa pun yang dijanjikan kepada mereka," kata Maniatis.
"Ini bukan tentang uang lagi. Ini bukan tentang panggilan yang lebih tinggi. Ini murni tentang ketakutan yang mengatur pengambilan keputusan saat ini."
Ketegangan semakin memuncak saat militer Amerika Serikat melumpuhkan sebuah kapal tanker tanpa muatan berbendera Curacao, M/T Belma, pada hari Rabu. Kapal tersebut terpaksa dihentikan setelah mengabaikan peringatan berulang saat bergerak menuju Pulau Kharg milik Iran di tengah pemberlakuan kembali blokade laut oleh AS.
Rute konvensional di tengah Selat Hormuz yang dikenal sebagai skema pemisahan lalu lintas kini sepenuhnya tidak dapat digunakan. Ancaman senjata tersembunyi di bawah permukaan air menjadi hantu menakutkan bagi setiap kapal yang melintas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Culture Festival TelkomGroup 2026 Kembali Digelar, Dorong Pelestarian Budaya di Tengah Transformasi
-
MUI Dukung MK Hapus Jatah Tambang untuk Ormas Keagamaan
-
Gen Z dari Partai Rakyat Kecoa Demo Besar, Capek Susah Cari Kerja, Frustasi dengan Pemerintah India
-
Bye Kulit Kusam! 4 Masker Hydrogel Korea dengan Kandungan Niacinamide yang Bikin Wajah Glowing
-
CapCut Resmi Hadir di MyTelkomsel, Telkomsel Permudah Akses Editing Video AI bagi Kreator Konten
-
Penggemar Bersiap! Gong Yoo Dikonfirmasi Gelar Fan Meeting Perdana di Indonesia
-
Siapa Keyne Yamal? Tingkah Gemas Adik Lamine Yamal di Piala Dunia 2026
-
Resmi! Indonesia Kini Punya UU Pusat Finansial Internasional
-
Belum Sempat Nonton? Film Mortal Kombat II Bakal Rilis di HBO Max 24 Juli
-
Kolaborasi TelkomGroup, Nongsa Digital Park, dan BW Digital Perkuat Infrastruktur Kabel Laut NCC