-
Samsung memangkas ratusan pekerja Amerika Serikat akibat relokasi markas besar menuju Texas.
-
Divisi gawai terancam merugi akibat lonjakan biaya cip dan persaingan ketat Apple.
-
Migrasi operasional dilakukan demi mengejar efisiensi dan memperkuat fokus pada ekosistem AI.
Suara.com - Samsung Electronics mengambil langkah drastis dengan memangkas hubungan kerja atau PHK ratusan karyawan pada lini bisnis layar, ponsel, dan elektronik konsumen di Amerika Serikat. Keputusan pahit ini berpusat di wilayah New Jersey dan Texas seiring rencana korporasi memindahkan markas besarnya.
Langkah ini mempertegas ketimpangan nasib di internal raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut. Divisi cip mereka sedang meraup laba tertinggi sepanjang sejarah, sedangkan sektor elektronik konsumen justru terengah-engah akibat lonjakan biaya komponen.
Pemangkasan ini juga mencerminkan pergeseran fokus global demi mengejar ketertinggalan di sektor kecerdasan buatan (AI). Dikutip dari CNBC Internasional, raksasa teknologi ini mengorbankan divisi konvensional untuk mendanai infrastruktur masa depan yang padat modal.
Samsung menyatakan bahwa perpindahan markas besar ini dapat memicu penyesuaian jumlah tenaga kerja. Restrukturisasi menyasar staf yang menolak pindah atau fungsi kerja yang dinilai kurang efisien bagi bisnis utama.
Pihak manajemen berdalih bahwa migrasi ke wilayah Texas bertujuan untuk mempererat sinergi internal tim. Integrasi operasional dinilai krusial untuk membangun fondasi bisnis yang adaptif di tengah ekosistem teknologi modern.
Kebijakan ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pekerja yang tersisa tentang masa depan mereka. Karyawan cemas bahwa gelombang pemangkasan susulan akan segera menyusul demi efisiensi anggaran korporasi.
Kendati demikian, manajemen membantah adanya rencana pengurangan tenaga kerja secara massal di tingkat global. Perusahaan menegaskan belum ada agenda restrukturisasi menyeluruh untuk divisi produk konsumen di negara lain.
Dokumen internal menunjukkan memo pengurangan staf berskala besar sudah dikirimkan kepada pekerja sejak akhir Juni. Sejumlah posisi krusial di bidang pemasaran dan penjualan senior tercatat ikut terdampak kebijakan ini.
Tekanan finansial dari divisi ponsel pintar menjadi pemicu utama yang memaksa efisiensi radikal ini terjadi. Sektor gawai Samsung diproyeksikan mencatat kerugian perdana akibat kalah bersaing dengan kompetitor utamanya, Apple.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dunia Membawa Tekanan Baru saat Perang di Selat Hormuz Makin Panas
Kondisi pasar semakin menjepit karena serbuan produsen elektronik asal China seperti TCL dan Hisense. Produk televisi dan alat rumah tangga Samsung terus kehilangan pangsa pasar yang signifikan di skala global.
Pemberitahuan resmi terpisah juga diterbitkan oleh afiliasi layanan teknologi informasi mereka, Samsung SDS America. Sebanyak 179 posisi di Ridgefield Park, New Jersey, dilaporkan terkena dampak penyesuaian operasional serupa.
Perusahaan mengklarifikasi bahwa perubahan di anak usaha tersebut murni karena perpindahan kantor regional saja. Manajemen menolak mengaitkan restrukturisasi tersebut dengan gelombang pemangkasan hubungan kerja di perusahaan induk.
Latar belakang pemindahan ini memperpanjang daftar raksasa teknologi global yang berbondong-bondong memindahkan operasionalnya ke Texas. Wilayah ini sangat populer karena menawarkan insentif pajak yang rendah serta regulasi bisnis yang longgar.
Negara bagian Texas sendiri bukan wilayah baru bagi portofolio investasi jangka panjang raksasa teknologi Korea ini. Mereka telah memiliki pabrik pembuatan cip yang masif serta pusat pengembangan gawai di kota Plano.
Hingga penutupan tahun lalu, Samsung tercatat mempekerjakan belasan ribu karyawan di wilayah Amerika Serikat. Angka tersebut mencakup seluruh pekerja di divisi semikonduktor yang kini menjadi tulang punggung laba korporasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus