Pengakuan Wanita Muda Indonesia Bekerja di Tempat Judi Malaysia Dibayar Rp7 Juta

Selasa, 15 September 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi judi online. (Freepik)
  • Aparat Malaysia menggelar operasi gabungan di Lebuh Pudu, Kuala Lumpur, pada akhir pekan untuk menindak pelanggaran hukum.
  • Petugas memeriksa sekitar 2.500 orang dan mengamankan 472 WNA berbagai negara yang tidak memiliki dokumen resmi.
  • Operasi tersebut berhasil membongkar praktik prostitusi, perjudian, serta layanan dokter ilegal yang dijalankan di lokasi kejadian.

Suara.com - Operasi gabungan aparat Malaysia membongkar tempat prostitusi, perjudian dan praktek dokter palsu di kawasan Lebuh Pudu, Kuala Lumpur.

Operasi tersebut mengamankan 472 warga negara asing (WNA) yang diduga tidak memiliki dokumen resmi.

Mereka ditahan setelah sekitar 2.500 orang menjalani pemeriksaan dalam operasi yang digelar pada akhir pekan.

Operasi dimulai sekitar pukul 11.00 waktu setempat dan dipimpin badan Imigrasi Kuala Lumpur dengan melibatkan sejumlah lembaga penegak hukum Malaysia.

Direktur Imigrasi Kuala Lumpur, Datuk Hamsha Injau, mengatakan 472 orang yang ditahan terdiri atas 439 laki-laki dan 33 perempuan berusia antara 18 hingga 62 tahun.

"Di antara yang ditahan adalah warga Bangladesh, India, Myanmar, Nepal, China, Pakistan, dan Zimbabwe," kata Hamsha dikutip dari Harian Metro.

Ilustrasi Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam waktu dekat Petronas akan memutuskan hubungan kerja 5.000 karyawannya. [ANTARA/Virna P Setyorini/aa.]

Menurut Hamsha, pelanggaran utama yang ditemukan berkaitan dengan tidak memiliki dokumen identitas yang sah serta izin tinggal yang telah melewati masa berlaku.

Salah satu warga yang diamankan adalah perempuan asal Indonesia berusia sekitar 20-an tahun.

Kepada petugas, perempuan tersebut mengaku bekerja di sebuah tempat yang disebutnya sebagai lokasi perjudian daring di kawasan Lebuh Pudu.

"Saya ditahan bersama teman. Saya sudah bekerja di sini selama delapan bulan. Majikan membayar gaji RM1.800 (setara Rp7 juta), per bulan," katanya.

Ia mengungkapkan sebagian besar pelanggan di tempat tersebut merupakan warga asing.

Lokasi itu disebut beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 waktu setempat.

Situasi di Lebuh Pudu sempat ricuh ketika sejumlah warga asing berusaha melarikan diri ke berbagai arah setelah mengetahui kedatangan petugas.

Beberapa di antaranya bahkan terlibat perkelahian dengan petugas imigrasi saat mencoba kabur.

Hamsha tidak membantah ketika ditanya apakah Lebuh Pudu telah menjadi salah satu kawasan yang menjadi konsentrasi warga asing tanpa dokumen.

"Kuala Lumpur menjadi tujuan warga asing dari berbagai negeri. Banyak yang memiliki dokumen perjalanan yang sah dan bekerja di sini," ujarnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com