News / Metropolitan
Rabu, 22 Juli 2026 | 06:55 WIB
Pekerjaan penggalian saluran air di Jalan Muchtar, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (21/7/2026). ( Foto Dokumentasi Pribadi)
Baca 10 detik
  • Dinas SDA DKI Jakarta mengerjakan proyek revitalisasi saluran air di Jalan Muchtar Joglo sejak 5 Juli hingga Oktober 2026.
  • Galian proyek menyebabkan akses jalan tertutup total dan memaksa pemilik warung bernama Rusyanto menutup usahanya sejak Minggu.
  • Rusyanto meminta kompensasi harian sebesar Rp50 ribu karena pendapatannya lumpuh akibat terhentinya operasional warung selama proyek berlangsung.

Suara.com - Proyek revitalisasi saluran air yang tengah digencarkan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta di kawasan Jalan Muchtar, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, memicu keluhan dari pelaku usaha lokal.

Salah satunya Rusyanto, seorang pemilik warung yang terpaksa menutup tempat usahanya karena akses jalan tertutup total oleh galian.

Rusyanto mengaku sangat terdampak oleh pengerjaan drainase yang bertujuan mengatasi banjir tersebut.

Menurutnya, sejak penggalian dimulai di depan warungnya, para pelanggan praktis tidak bisa mampir.

"Benar-benar tutup (warung) karena kita juga enggak ada akses. Bahkan masuk aja susah. Kita cuma dikasih kayu doang buat menyeberang. Otomatis buat usaha ya enggak bisa. Kendaraan-kendaraan juga enggak bisa minggir jadinya buat singgah ke warung. Makanya kita minta kompensasi lah," kata Rusyanto Selasa (21/7/2026) malam.

Minta Ganti Rugi Layak

Bagi Rusyanto, kompensasi adalah bentuk keadilan bagi para pedagang kecil yang operasionalnya lumpuh total akibat proyek pemerintah.

Ia tidak meminta angka yang muluk-muluk, melainkan sekadar pengganti pemasukan harian yang hilang.

"Pengennya sih warga yang dagang khususnya, minimal ada omongan kompensasi lah. Minimal kayak sehari Rp50 ribu atau berapa lama gitu kan, untuk mengganti jualan kita yang enggak bisa buka," ungkapnya.

Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung Dilanjutkan, Kadis SDA: Bisa Tekan Risiko Banjir 40 Persen

Warung milik Rusyanto sendiri sudah berhenti beroperasi sejak Minggu (19/7) lalu. Ia menyebut rekan-rekan sesama pedagang di area tersebut sudah lebih dulu menutup lapaknya seiring dengan progres penggalian yang dilakukan bertahap.

"Rugi saya, kalau tempat saya sendiri tuh udah dari hari Minggu (ditutup). Kalau yang lain kan udah dari sebelumnya. Kalau di tempat saya baru Minggu ini. Katanya estimasi seminggu lebih lah untuk bisa sampai dirapikan lagi dan ditutup salurannya, biar bisa buka warung lagi," jelas Rusyanto.

Keluhkan Sosialisasi dan Kemacetan

Meski menyadari pentingnya proyek ini untuk menangani masalah banjir yang kerap melanda kawasan Joglo, Rusyanto menyayangkan minimnya sosialisasi yang komprehensif terkait mekanisme pekerjaan di lapangan.

"Mulainya sebenarnya kan dari tiga minggu lalu, ya. Sebelumnya sudah dikasih tahu sama RT bakal ada perbaikan saluran. Tapi, kita juga enggak tahu mekanismenya kayak gimana. Dimulai dari seberang Jalan Joglo Raya tuh, depan kafe. Nah, akhirnya nyampai lah ke depan rumah saya (Jalan Muchtar)," keluh dia.

Tak hanya soal dapur yang berhenti mengepul, Rusyanto juga menyoroti kemacetan parah yang timbul akibat penyempitan jalan di jalur padat tersebut.

Load More