News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 10:48 WIB
Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)
Baca 10 detik
  • Pentagon diduga menyembunyikan krisis kelangkaan rudal pencegat dari Presiden Donald Trump.

  • Analisis menunjukkan stok amunisi krusial AS dan sekutu terancam habis dalam satu bulan.

  • Trump tetap memerintahkan eskalasi serangan militer ke Iran usai tewasnya tiga prajurit AS.

Suara.com - Ancaman perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran terancam terkendala masalah serius di internal militer Washington. Pentagon diduga sengaja menyembunyikan krisis persediaan rudal pencegat dari meja kerja Presiden Donald Trump.

Kondisi kritis ini berpotensi menggagalkan ambisi AS untuk melancarkan serangan balasan berskala besar ke wilayah Iran. Gedung Putih bahkan disinyalir enggan membongkar fakta sebenarnya terkait minimnya pasokan amunisi tersebut.

“Berbagi 'berita buruk, atau berita realistis, sepertinya tidak berakhir baik bagi siapa pun',” ungkap seorang sumber dalam kepada The Telegraph.

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin (20/7/2026) waktu setempat, memicu eskalasi baru di Timur Tengah. [NY Post]

"Budaya keheningan," lanjut sumber lain, kini menjadi tembok besar yang menyulitkan langkah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Analisis Royal United Services Institute pada Maret mencatat AS dan sekutu menguras lebih dari 11.000 amunisi hanya dalam 16 hari pertama perang. Lembaga tersebut memprediksi pasokan amunisi krusial militer AS akan habis total dalam kurun satu bulan.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru terus mengobarkan semangat perang dan bersiap meningkatkan intensitas gempuran ke Tehran. Keputusan ini diambil usai gugurnya dua prajurit AS di pangkalan udara Yordania serta satu prajurit di Irak.

"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat!" tegas Trump pada Senin lalu.

Instruksi tegas tersebut langsung diteruskan Trump kepada Pete Hegseth dan Dan Caine selaku Ketua Kepala Staf Gabungan. Sejumlah jet tempur F-35 dan F-16 dari pangkalan Inggris serta Jerman bahkan sudah dikerahkan ke Timur Tengah.

Armada pesawat tanker penyuplai bahan bakar udara juga dilaporkan tengah bergerak menyusul ke kawasan konflik. Pasukan AS sebelumnya telah meremukkan sejumlah jembatan strategis di sekitar Bandar Abbas, salah satu pelabuhan utama milik Iran.

Baca Juga: Rudal Iran Terbukti Lebih Canggih dari Pertahanan Militer Amerika, Ini Buktinya

Trump berulang kali mengancam akan menghancurkan fasilitas infrastruktur sipil Iran, meski sempat menahan diri dari keputusan ekstrem tersebut.

Titik sasaran tempur AS kini mulai mengincar area pedalaman Iran setelah kesepakatan gencatan senjata resmi batal pekan lalu. Pentagon meyakini jalan terbaik membuka Blokade Selat Hormuz adalah melalui eskalasi militer yang jauh lebih agresif.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa negaranya kini resmi terlibat dalam "full-scale war" menghadapi gempuran musuh. Namun, kesiapan tempur jangka panjang militer AS untuk meladeni perang terbuka ini menjadi pertanyaan besar.

Kondisi ketegangan ini merupakan buntut dari rangkaian konflik bersenjata yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Kegagalan diplomasi dan gencatan senjata memaksa kedua negara berada di ambang konfrontasi militer terhebat dalam sejarah.

Load More