News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 10:28 WIB
Ilustrasi tentara yang mengoperasikan interceptor rudal di perang Iran vs Israel dan AS. (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Menteri Pertahanan AS mengajukan tambahan anggaran $87 miliar akibat pembengkakan biaya perang Iran.

  • Persidangan Senat berlangsung panas diwarnai penolakan anggaran dari kubu Demokrat dan demonstran.

  • Eskalasi konflik Iran terus memakan korban jiwa tentara AS serta mengancam kesiapan pertahanan.

Suara.com - Pembengkakan tagihan perang di Timur Tengah memaksa Departemen Pertahanan Amerika Serikat memohon suntikan dana darurat dari Kongres. Esalasi pertempuran dengan Iran kini telah menguras anggaran pertahanan AS hingga puluhan miliar dolar hanya dalam kurun waktu beberapa bulan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa kelangsungan operasi dan kesiapan tempur prajurit berada dalam posisi sangat rentan. Kebutuhan dana darurat tersebut mendesak untuk segera disetujui guna mencegah kelumpuhan operasional armada militer.

Sedikitnya $87 miliar dana segar diajukan kepada Senat dengan porsi terbesar dialokasikan khusus untuk pengerahan pasukan di Timur Tengah. Penambahan anggaran ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik bersenjata di kawasan tersebut masih jauh dari kata usai.

Perang Iran melawan Israel semakin memanas. Hal tersebut berdampak pada harga minyak yang mulai naik.

Dalam persidangan bersama Komite Alokasi Senat, Hegseth membeberkan besarnya dana yang telah dihabiskan militer sejak pertempuran meletus. Ia menyebutkan angka fantastis yang terus meningkat signifikan jika dibandingkan dengan perhitungan beberapa bulan sebelumnya.

"Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan kritis yang mengancam kemampuan kita untuk juga sekadar membayar anggota layanan kita, dengan cepat mengisi kembali peralatan dan amunisi, dan mempertahankan operasi vital tanpa gangguan," ujar Hegseth dikutip dari BBC Internasional, Rabu (22/7/2026) pagi.

Hegseth menegaskan bahwa efisiensi penggunaan anggaran akan diprioritaskan demi memperkuat daya tempur pasukan di lapangan.

"Setiap dolar yang dialokasikan akan digunakan untuk membangun fleksibilitas pasukan militer AS dan memperkuat perdamaian melalui kekuatan."

Sesi pendengaran pendapat tersebut diwarnai ketegangan tinggi akibat unjuk rasa penolakan perang serta perdebatan panas dengan anggota dewan. Pertemuan ini menandai kemunculan perdana Hegseth di Capitol Hill pasca-meningkatnya kembali intensitas baku tembak di Timur Tengah.

Kritik tajam mengalir dari kubu oposisi yang mempertanyakan rasionalitas pengajuan anggaran raksasa di tengah kesulitan ekonomi domestik. Senator Demokrat Kirsten Gillibrand menyindir keras kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Baca Juga: Iran Terancam Balasan Fatal karena Bunuh Tentara Donald Trump

Gillibrand mempertanyakan mengapa Hegseth meminta puluhan miliar dolar untuk perang yang menurut presiden telah dimenangkan, sementara warga AS tidak mampu memberi makan keluarga mereka.

Suasana sidang makin memanas ketika Senator Demokrat Gary Peters melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Pentagon. Peters secara terbuka menyebut Hegseth sebagai kegagalan dan menilai pemerintah telah menciptakan perang tanpa akhir yang baru.

Hegseth merespons tuduhan tersebut secara menohok di hadapan para anggota Senat. Hegseth mengatakan kepada Peters kasihan kamu, seraya menambahkan bahwa senator asal Michigan itu mengidap sindrom kegilaan Trump.

Merespons pertanyaan mengenai dampak buruk jika usulan anggaran ditolak, Hegseth mengisyaratkan adanya efisiensi ketat yang merugikan. Ia menyebutkan bahwa program pelatihan prajurit terancam dipangkas sambil melemparkan kesalahan atas ketimpangan anggaran ini kepada pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya.

Di sisi lain, sejumlah sumber internal meyakini bahwa kalkulasi pengeluaran nyata militer AS di lapangan jauh lebih tinggi dari angka resmi. Estimasi yang disampaikan pemerintah dinilai belum mencakup kerusakan infrastruktur dan pangkalan militer yang hancur diterjang serangan balik.

Sebelumnya, pengeluaran mingguan awal agresi militer AS telah menembus belasan miliar dolar sebelum kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai. Namun, pecahnya kembali pertempuran pekan lalu memupus harapan damai dan memicu lonjakan biaya operasi baru.

Load More