News / Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi gereja Katolik. (Unsplash)
Baca 10 detik
  • Polisi Jerman menangkap remaja 16 tahun yang berencana membakar gereja atas perintah ISIS.

  • Tersangka terbukti berkomunikasi dengan kelompok ISIS serta mempromosikan propaganda terorisme di media sosial.

  • Pelaku kini dirawat di fasilitas medis khusus anak karena mengidap gangguan mental.

Suara.com - Aparat kepolisian Jerman menggagalkan aksi pembakaran gereja yang didalangi oleh seorang remaja berusia 16 tahun. Tersangka diduga kuat bergerak di bawah kendali langsung jaringan terorisme ISIS.

Penangkapan di Kota Hamm ini membongkar pola radikalisasi yang menyasar anak di bawah umur dengan keterbatasan mental. Kelompok teror memanfaatkan celah kerentanan psikologis korban untuk melancarkan aksi kejahatan.

Penyidik menggagalkan rencana destruktif ini setelah mendeteksi jejak komunikasi intensif antara tersangka dan jaringan ISIS. Kondisi kejiwaan pelaku kini menjadi fokus utama penyelidikan hukum di Jerman.

Ilustrasi gereja (Pixabay Tama 66)

Juru bicara kantor Kejaksaan Agung di Düsseldorf, Alexandra Wiese, mengonfirmasi bahwa tersangka menjalin komunikasi dengan seseorang yang dekat dengan kelompok ISIS. Hubungan digital tersebut menjadi petunjuk penting dalam membongkar niat kejahatan sang remaja.

Sebelum diringkus, remaja tersebut secara aktif mengunggah konten propaganda ISIS di berbagai platform media sosial. Ia bahkan sempat berupaya menerobos masuk ke wilayah kekuasaan ISIS untuk bergabung secara langsung.

Hasil investigasi mengungkap bahwa tersangka telah melakukan pengamatan lapangan secara langsung di gereja sasaran. Ia memantau situasi gereja komunitas Kristen independen tersebut untuk menentukan skenario pembakaran.

Aksi nekat ini berhasil dihentikan setelah jajaran kepolisian menangkap tersangka pada 2 April lalu. Petugas langsung menggeledah apartemen milik remaja tersebut untuk mengumpulkan bukti-bukti pendukung.

Usai penangkapan, tim medis mendiagnosis tersangka mengalami gangguan kejiwaan yang cukup serius. Otoritas hukum kemudian memindahkan pelaku dari ruang tahanan pra-sidang ke fasilitas medis khusus anak.

Langkah pemindahan ini diambil untuk memberikan penanganan medis yang tepat bagi kondisi mentalnya. Tim penyidik kini menghadapi dilema hukum terkait status pertanggungjawaban pidana tersangka.

Baca Juga: Ibu Santri di Lombok Tengah: Anak Saya ke Pesantren untuk Belajar Agama, Bukan Dibakar Hidup-Hidup

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum menentukan apakah remaja dengan keterbatasan mental tersebut dapat dituntut secara hukum atau tidak.

Kasus ini menyoroti maraknya ancaman propaganda terorisme global yang menyasar kelompok rentan melalui ruang digital. Pola perekrutan ISIS kini makin agresif menyusup ke kalangan remaja tanpa memandang kondisi kesehatan mental.

Penanganan kasus di Kota Hamm ini menjadi ujian serius bagi sistem peradilan anak dan kepolisian Jerman. Otoritas keamanan terus memperketat pengawasan digital guna mencegah terulangnya aksi teror serupa.

Load More