-
Harga minyak dunia melonjak dipicu gempuran beruntun militer AS terhadap sasaran militer Iran.
-
Ancaman milisi Houthi terhadap jalur ekspor Arab Saudi semakin mempergenting krisis pasokan global.
-
Belum adanya tanda kesepakatan damai membuat ketidakpastian harga energi terus berlanjut di pasar.
Suara.com - Perang di Timur Tengah langsung menghantam pasar energi global hingga memicu lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan hebat ini membahayakan jalur distribusi energi internasional serta mengancam stabilitas pasokan dunia.
Ancaman terhadap jalur ekspor utama Arab Saudi kini membuat para pelaku pasar khawatir akan potensi krisis pasokan yang meluas. Situasi darurat ini menempatkan ekonomi global dalam posisi yang sangat rentan.
Patokan harga minyak Brent tercatat melesat 3,7 persen hingga menyentuh angka 94,40 dolar AS per barel pada Jumat pagi waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4 persen menjadi 87,71 dolar AS per barel.
Kenaikan tajam harga si emas hitam ini terjadi persis setelah Amerika Serikat melancarkan gempuran udara berturut-turut selama 11 malam. Dikutip dari CNN Internasional, serangan tersebut menghantam berbagai target militer strategis milik Iran di kawasan tersebut.
Kondisi semakin memanas setelah milisi Houthi di Yaman mengancam akan melumpuhkan jalur penyelamat utama ekspor minyak Arab Saudi. Langkah agresif ini berpotensi memutus pasokan minyak mentah ke berbagai negara konsumen.
Ketegangan geopolitik yang belum mereda ini dinilai menjadi pendorong utama gejolak harga di pasar komoditas.
"Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi saat serangan antara AS dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan belum ada tanda-tanda konkret mengenai kesepakatan damai," tulis analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.
Tanpa adanya jalur diplomasi yang efektif, pertempuran udara dan ancaman di lautan berisiko terus mengerek biaya energi global. Kondisi ini memaksa para investor mengantisipasi skenario terburuk dalam beberapa minggu ke depan.
Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah secara historis selalu menjadi faktor krusial yang mengguncang stabilitas harga minyak dunia. Wilayah ini menampung titik-titik penyaluran minyak mentah terpenting yang menghubungkan produsen utama dengan pasar internasional.
Baca Juga: Perang Lagi Panas-panasnya, Amerika Serikat Krisis Rudal Lawan Iran
Gempuran beruntun pihak militer serta ancaman blokade armada milisi menegaskan betapa rapuhnya rantai pasok energi global saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
11 Malam Perang AS-Iran Bikin Harga Minyak Dunia Terus Melonjak
-
BI Batal Naikan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah Lagi
-
MRT Jakarta Fase 2A Tembus 61,8%, Uji Coba HI-Monas Dibidik 2027
-
Membaca Jadi Privilese Mewah: Mengapa Harga Buku Makin Tak Terjangkau?
-
Prabowo Resmi Tunjuk Kuntadi Jadi Jampidsus, Gantikan Febrie Adriansyah
-
Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI hingga Tewas di Kelapa Dua Bertambah Jadi 7 Orang
-
KPAI Sebut Rumah, Sekolah, dan Ruang Digital Masih Jadi Tempat Rawan bagi Anak
-
Keponakan Prabowo Berikan Syarat Pembelian Dolar AS di Atas US$10.000
-
Demo Desak Penahanan Febrie Adriansyah di Kejagung Berujung Ricuh
-
Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB