News / Internasional
Kamis, 23 Juli 2026 | 14:55 WIB
Puing puing Antariksa bikin luar angkasa jadi padat (dok.Pexels/Zelch Csaba)

Suara.com - Meningkatnya aktivitas peluncuran satelit, misi antariksa, dan eksplorasi Bulan dinilai membawa tantangan baru bagi lingkungan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan bahwa eksplorasi luar angkasa perlu dilakukan secara lebih berkelanjutan agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang bagi Bumi maupun ruang angkasa.

Pejabat Senior Program Lingkungan PBB (UNEP), Jason Jabbour, mengatakan setiap peluncuran wahana antariksa meninggalkan jejak lingkungan yang dampaknya belum sepenuhnya dipahami.

"Puluhan tahun aktivitas luar angkasa yang berkembang pesat telah menunjukkan bahwa setiap peluncuran meninggalkan jejak lingkungan, dan dibutuhkan waktu lama untuk memahami dampaknya secara penuh. Inilah mengapa sangat penting untuk mempertimbangkan keberlanjutan program-program ini sejak dini," ujarnya.

Salah satu perhatian utama adalah terus bertambahnya puing antariksa yang mengorbit Bumi. Selain berpotensi bertabrakan dengan satelit aktif dan mengganggu sistem komunikasi global, puing yang kembali memasuki atmosfer juga diperkirakan melepaskan logam seperti aluminium, litium, dan tembaga.

Para peneliti menduga material tersebut dapat memengaruhi lapisan ozon sekaligus berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Menurut PBB, meski berbagai kesepakatan internasional telah diterapkan, diperkirakan masih terdapat sekitar 140 juta keping puing antariksa berukuran lebih dari satu milimeter yang mengelilingi Bumi. Sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga sulit dideteksi, tetapi tetap mampu merusak satelit maupun wahana antariksa.

Setiap tahun, ratusan ton badan roket dan pesawat ruang angkasa juga diperkirakan kembali memasuki atmosfer. Sebagian besar memang terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

Namun, komponen yang tahan panas berpotensi jatuh ke daratan atau laut sehingga dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan manusia, infrastruktur, maupun ekosistem.

Di sisi lain, aktivitas antariksa diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya misi ke Bulan. Selain program Artemis II milik NASA, sejumlah negara seperti China, India, dan Jepang, bersama perusahaan swasta, tengah mengembangkan misi untuk membangun kehadiran manusia di Bulan dalam beberapa dekade mendatang.

Baca Juga: Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani Batal Tangkap Benjamin Netanyahu, Kenapa?

PBB menilai ambisi tersebut perlu diiringi dengan prinsip keberlanjutan. Menurut organisasi itu, Bulan memiliki peran penting terhadap sistem alami Bumi, termasuk memengaruhi pasang surut laut yang berperan dalam menjaga ekosistem pesisir.

Untuk mengurangi dampak lingkungan, negara-negara anggota PBB telah menyepakati sejumlah pedoman, di antaranya membatasi pembentukan puing antariksa, mencegah ledakan satelit di orbit, menghindari penghancuran wahana secara sengaja, serta memindahkan satelit dan roket yang sudah tidak digunakan ke orbit yang lebih aman.

UNEP bersama Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa (UNOOSA) kini juga memperkuat kajian ilmiah mengenai dampak aktivitas antariksa. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan tata kelola eksplorasi luar angkasa yang tidak hanya mendukung kemajuan teknologi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Load More