-
AS mengkaji opsi agresi militer ke Mali untuk menumpas kelompok teroris JNIM.
-
Kebijakan serangan militer masih memicu perdebatan di internal pejabat tinggi pemerintahan AS.
-
Kelompok JNIM membiayai aksi terorisme melalui penculikan, penyelundupan narkoba, dan tambang emas ilegal.
Suara.com - Gedung Putih mulai menakar opsi intervensi militer langsung ke kawasan Sahel, Afrika Barat. Langkah ekstrem ini diambil demi melumpuhkan pergerakan jaringan teroris internasional yang kian menguat di kawasan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat kini secara serius mengkaji rencana agresi militer ke Mali guna menumpas kelompok Jamaat Nusrat al-Islam wal-Muslimin atau Jamaat Nasr al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Kelompok mematikan tersebut dikenal sebagai salah satu cabang utama yang secara resmi berafiliasi dengan jaringan al-Qaeda.
Langkah ofensif ini menandai pergeseran strategi geopolitik Washington yang tidak lagi membiarkan kawasan Afrika Sub-Sahara menjadi sarang pertumbuhan kelompok radikal. Fokus operasi diprioritaskan untuk menghancurkan simpul kekuatan ekstrimis sebelum dampaknya meluas secara global.
Namun, strategi tempur tersebut belum sepenuhnya mendapat lampu hijau penuh dari para pengambil kebijakan di Washington. Perbedaan pandangan mengenai efektivitas dan risiko geopolitik operasi masih terus diperdebatkan secara internal.
Saat ini, belum ada kesepakatan perihal rencana agresi militer tersebut di kalangan pejabat tinggi pemerintahan.
Kendati demikian, faksi garis keras di dalam lingkaran istana kepresidenan justru mendorong agar aksi militer segera dieksekusi tanpa menunda waktu. Dorongan kuat ini datang dari pejabat penanggung jawab isu-isu penanggulangan terorisme.
Wakil Asisten Presiden AS Donald Trump, sekaligus Direktur Senior Bidang Kontraterorisme Dewan Keamanan Nasional, Sebastian Gorka, dilaporkan mendukung operasi itu.
Kondisi keamanan di Mali sendiri sudah sangat memprihatinkan akibat gempuran konflik bersenjata dari berbagai arah. Negara Afrika Barat itu telah dilanda serangan militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda serta pemberontak Tuareg dari Front Pembebasan Azawad (FLA).
Ancaman paling nyata datang dari keterlibatan aktif kelompok JNIM yang terus memperluas pengaruh kekuasaannya. Eksistensi koalisi jihadis ini menjadi alasan utama timbulnya wacana serangan mendadak dari pasukan Amerika Serikat.
Baca Juga: Beban Hidup Makin Susah, 70 Persen Penduduk Amerika Tolak Donald Trump Perang dengan Iran
Jamaat Nasr al-Islam wal-Muslimin (JNIM), yang berarti "Kelompok Pendukung Islam dan Muslim", adalah koalisi militan garis keras di wilayah Sahel, Afrika Sub-Sahara, yang secara resmi berafiliasi dengan al-Qaeda.
Aliansi berbahaya ini berakar dari penyatuan beberapa kelompok radikal lokal yang sepakat meleburkan diri demi melipatgandakan kekuatan tempur. Didirikan pada Maret 2017, kelompok ini dibentuk melalui penggabungan beberapa faksi jihadis regional seperti Ansar al-Din, al-Murabitoun, dan Katibat Macina.
Gerakan militer ini dikendalikan oleh tokoh sentral radikal dari etnis lokal yang berambisi merebut kekuasaan politik secara penuh. Di bawah pimpinan ekstremis Tuareg, Iyad Ag Ghali, tujuan utama JNIM adalah menggulingkan otoritas pemerintah sekuler dan menerapkan hukum Syariah di wilayah tersebut.
Guna menopang operasional milisi serta pembelian senjata, kelompok ini mengandalkan jaringan kejahatan terorganisir yang sangat terstruktur. Kelompok ini mendanai operasinya melalui kegiatan kriminal, termasuk penculikan warga asing untuk tebusan, perdagangan narkoba, dan penambangan emas ilegal.
Kawasan Sahel di Mali telah menjadi pusaran konflik berkepanjangan sejak runtuhnya stabilitas politik domestik yang memicu kekosongan kekuasaan. Ketidakstabilan ini dimanfaatkan oleh jaringan milisi radikal untuk menguasai jalur ekonomi gelap dan wilayah pedalaman.
Masuknya rencana intervensi militer Amerika Serikat memunculkan babak baru dalam dinamika penanganan terorisme global di kawasan Afrika Sub-Sahara. Keputusan final Washington diprediksi bakal menentukan arah geopolitik dan peta keamanan di Afrika Barat dalam beberapa tahun ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
Terkini
-
Iran Belum Beres, Amerika Mau Sikat Jamaat Nusrat al-Islam wal-Muslimin di Mali
-
Putaran Cakung Ditutup! Truk Kontainer yang Sering Bikin Antrean Panjang Diminta ke Sini
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Apa Saja Hewan di Kebun Binatang Surabaya? Kondisi Satwa Disorot usai Eks Dirut Korupsi
-
Buruh Tembakau Ancam Demo di Kemenkes Buntut Aturan Rokok Baru
-
Sibuk Membangun, Lupa Membenahi: Perlukah Universitas Republik Indonesia?
-
Tekad Jordi Amat Hajar Kamboja di Piala AFF 2026, Tak Sekadar Omong Kosong?
-
Bedak Padat Pixy untuk Kulit Sawo Matang Nomor Berapa? Cek Rekomendasi Shade Ini Biar Nggak Abu-abu
-
Bahlil Buka Keran Produksi Batu Bara, Prioritaskan Pasokan PLN dan Industri Dalam Negeri
-
Pimpinan KPK Bongkar Cara Agar Kepala Daerah Tidak Terjaring OTT