News / Internasional
Kamis, 23 Juli 2026 | 13:13 WIB
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance (DDG-111), mencegat kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. [NY Post]
Baca 10 detik
  • Dukungan warga AS terhadap perang di Iran anjlok hingga di bawah 30 persen.

  • Masyarakat menolak perang akibat kenaikan harga energi dan tingginya biaya hidup domestik.

  • DPR AS tetap menyetujui tambahan anggaran perang Iran hingga 73 miliar dolar AS.

Suara.com - Masyarakat Amerika Serikat makin gencar menentang keterlibatan militer negaranya dalam perang di Iran. Pembengkakan tagihan perang yang berimbas langsung pada krisis biaya hidup warga menjadi pemicu utama penolakan tersebut.

Hasil berbagai survei terbaru mencatat tingkat dukungan publik AS terhadap invasi militer kini merosot di bawah angka 30 persen. Tren penurunannya bahkan diprediksi bakal terus berlanjut seiring membengkaknya dampak ekonomi domestik.

Situasi ini memicu rasa frustrasi publik karena bertentangan dengan janji politik Donald Trump saat berkampanye. Kala itu, sang presiden berikrar bakal menghentikan keterlibatan AS dalam perang abadi di luar negeri.

Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]

Di saat yang sama, warga harus menanggung kenaikan harga barang dan jasa akibat melambungnya tarif energi dunia. Dikutip dari Al Jazeera, lonjakan harga minyak mentah secara global langsung menghantam daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Penolakan masyarakat juga dipicu oleh terus bertambahnya jumlah prajurit yang gugur di medan tempur. Kedatangan jenazah para tentara di Pangkalan Angkatan Udara Dover pada Rabu lalu makin mempertegas duka publik.

Di tengah kepedulian atas keselamatan pasukan, beban finansial tetap menjadi alasan paling krusial bagi penolakan warga. Sebagian besar masyarakat menilai operasi militer ini terlampau mahal dan membebani keuangan negara.

Rentetan argumentasi pejabat militer di Capitol Hill sepanjang minggu ini pun gagal meredam amarah publik. Menteri Pertahanan bersama Ketua Kepala Staf Gabungan terus mendesak tambahan dana untuk menyokong pertempuran.

Permintaan dana tambahan tersebut memicu polemik besar karena bertentangan dengan janji awal pemerintah. Sebelumnya, presiden sempat mengklaim bahwa konfrontasi militer di wilayah Iran hanya berlangsung singkat.

DPR AS kini telah menyetujui resolusi anggaran baru senilai hingga 73 miliar dolar AS untuk kebutuhan perang. Keputusan legislatif ini memicu kecaman karena dinilai memaksakan pengeluaran yang tidak sanggup ditanggung negara.

Baca Juga: Iran Pakai Doktrin Hukum Tertua di Dunia Balas Serangan Amerika: Mata Ganti Mata!

Konflik bersenjata di Iran kini berkembang menjadi krisis berkepanjangan yang menguras kas perserikatan. Keterlibatan militer AS yang semula dijanjikan berjalan cepat justru menyedot dana belanja negara dalam jumlah fantastis.

Eskalasi pertempuran tersebut memicu guncangan pasar energi global yang berimbas langsung pada inflasi domestik AS. Ketidakpastian ekonomi ini akhirnya mengikis kepercayaan publik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah.

Load More