- Ilmuwan mengembangkan peningkatan alkalinitas laut untuk mempercepat kemampuan alami lautan dalam menyerap karbon dioksida.
- Peneliti Australia berencana menguji metode tersebut di Selat Bass menggunakan kapal riset RV Investigator.
- Teknologi ini memerlukan pengujian lebih lanjut dan pelibatan masyarakat guna memastikan keamanan ekosistem laut.
Suara.com - Di tengah upaya dunia mengejar target emisi nol bersih (net zero), para ilmuwan terus mencari cara agar bumi mampu menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO) dari atmosfer.
Salah satu pendekatan yang kini mulai diuji adalah ocean alkalinity enhancement atau peningkatan alkalinitas laut, sebuah teknologi yang memanfaatkan kemampuan alami laut untuk menyimpan karbon lebih banyak.
Dikutip dari Phys.org aut selama ini telah menjadi penyerap karbon terbesar di bumi. Sekitar 30 persen emisi CO yang dihasilkan manusia setiap tahun diserap oleh lautan. Namun, kemampuan alami tersebut berlangsung sangat lambat sehingga belum cukup untuk menahan laju perubahan iklim.
Karena itu, para peneliti mengembangkan metode untuk meningkatkan kadar alkalinitas air laut. Caranya dengan menambahkan material bersifat basa, seperti mineral silikat atau karbonat yang telah dihaluskan, maupun senyawa lain yang dapat meningkatkan kemampuan air laut mengubah CO terlarut menjadi bentuk yang lebih stabil.
Dengan demikian, laut dapat menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer.
Sejumlah uji coba skala kecil telah dilakukan di wilayah pesisir menggunakan kapal maupun fasilitas penelitian. Hasil awal menunjukkan pendekatan ini berpotensi menjadi bagian dari solusi pengurangan karbon global.
Namun, para ilmuwan menekankan bahwa teknologi ini belum siap diterapkan secara luas. Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab, terutama mengenai efektivitasnya di berbagai kondisi laut. Penelitian menunjukkan faktor seperti arus laut, kedalaman perairan, musim, hingga kecepatan angin dapat memengaruhi jumlah karbon yang mampu diserap.
Aspek keamanan lingkungan juga menjadi perhatian utama. Sejumlah studi laboratorium menemukan peningkatan alkalinitas dalam jumlah kecil belum menunjukkan dampak berarti terhadap beberapa jenis rumput laut dan alga. Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa setiap jenis material memiliki batas aman dan dapat memberikan dampak berbeda terhadap ekosistem laut jika digunakan dalam jumlah besar.
Karena itu, para ilmuwan di Australia berencana melakukan pengujian lebih lanjut di Selat Bass menggunakan kapal riset RV Investigator. Penelitian tersebut bertujuan mengukur secara langsung dampak lingkungan sekaligus memperkuat metode pemantauan perubahan kimia laut.
Baca Juga: Indonesia Geram Tanker Arab Saudi Dirudal di Laut Merah: Itu Pelanggaran Hukum Internasional
Selain bukti ilmiah, keberhasilan teknologi ini juga bergantung pada dukungan masyarakat. Sejumlah penelitian menunjukkan warga ingin dilibatkan sejak tahap perencanaan, bukan sekadar menjadi pihak yang diberi informasi. Keterlibatan masyarakat adat juga dinilai penting karena mereka memiliki pengetahuan panjang mengenai pengelolaan wilayah laut.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip jurnalisme konstruktif: perubahan iklim memang membutuhkan solusi yang berani, tetapi setiap inovasi harus diuji secara transparan, berbasis bukti ilmiah, serta melibatkan masyarakat. Dengan keseimbangan tersebut, peningkatan alkalinitas laut berpeluang menjadi salah satu pelengkap upaya mengurangi emisi, tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem yang justru ingin dilindungi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel
-
Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim
-
4 Micellar Water Probiotic Jaga Keseimbangan Skin Barrier pada Kulit Kering
-
Berdayakan UMKM Lokal, BRI Hadirkan Pelatihan Terpadu Lewat Rumah BUMN Demak
-
Viral Denda Ban Gundul Rp250 Ribu, Korlantas Polri Ungkap Fakta Sebenarnya
-
Survei SMRC Beberkan Dua Faktor Utama Kepuasan Publik ke Presiden Prabowo Anjlok Tajam
-
Nasib Tragis Bintang Film Dewasa Alami Kerusakan Otak Permanen, Minta Ganti Rugi Rp45 M
-
Berhenti Menggosok Dudukan Toilet Umum dengan Tisu, Ini Cara Membersihkan yang Benar
-
John Herdman Diolok-olok Publik Vietnam Disebut Sok Tahu dan Salah Data
-
Manga Sometimes Even Reality Is a Lie! Diadaptasi Jadi Anime, Tayang 2027