News / Internasional
Minggu, 26 Juli 2026 | 14:55 WIB
Ilustrasi sampah makanan menyisakan jejak karbon.
Baca 10 detik
  • Peneliti dari berbagai universitas mengembangkan model MATILDA untuk memetakan dampak lingkungan pola makan di 165 negara.
  • Laki-laki muda perkotaan berpendidikan tinggi memiliki jejak karbon terbesar, sementara perempuan pedesaan mencatat dampak lingkungan terendah.
  • Pendekatan kebijakan pangan berkelanjutan harus disesuaikan dengan karakteristik kelompok masyarakat agar efektif dan tepat sasaran.

Suara.com - Apa yang kita makan tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga menentukan besarnya tekanan terhadap iklim, lahan, dan sumber daya air. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak tersebut tidak tersebar merata. Perbedaan pola makan antarkelompok masyarakat justru menjadi kunci untuk memahami bagaimana sistem pangan dapat dibuat lebih berkelanjutan.

Temuan itu berasal dari peneliti di Institute of Environmental Sciences (CML) Universitas Leiden, bersama University of Oxford dan Vienna University of Economics and Business.

Alih-alih menghitung rata-rata pola makan suatu negara, mereka mengembangkan model bernama MATILDA untuk memetakan jejak lingkungan dari pola makan berbagai kelompok penduduk di 165 negara.

Limbah Makanan. (Unsplash/caveoh)

Model tersebut menghitung emisi karbon, penggunaan lahan, konsumsi air, hingga kualitas gizi berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta apakah seseorang tinggal di wilayah perkotaan atau pedesaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa laki-laki muda berpendidikan tinggi yang tinggal di kawasan perkotaan, rata-rata memiliki jejak karbon terbesar dari pola makannya. Sebaliknya, perempuan di pedesaan mencatat dampak lingkungan paling rendah.

Perbedaan itu bukan semata karena jumlah makanan yang dikonsumsi, melainkan jenis makanan yang dipilih. Pola makan yang lebih banyak mengandalkan produk hewani cenderung menghasilkan emisi lebih tinggi karena peternakan membutuhkan lahan, air, dan pakan dalam jumlah besar. Sebaliknya, kelompok yang lebih banyak mengonsumsi pangan nabati umumnya memiliki jejak lingkungan lebih kecil sekaligus kualitas gizi yang lebih baik.

Peneliti utama Oliver Taherzadeh mengatakan jejak lingkungan dari pola makan dapat berbeda lebih dari lima kali lipat di antara kelompok sosial-ekonomi dalam satu negara yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa menggunakan rata-rata nasional saja berisiko menutupi kelompok yang sebenarnya memiliki dampak terbesar terhadap lingkungan.

Bagi para peneliti, hasil tersebut membuka peluang baru dalam merancang kebijakan pangan. Selama ini, banyak strategi keberlanjutan dibuat untuk seluruh populasi secara seragam. Padahal, kondisi kesehatan, tingkat pendapatan, akses terhadap pangan, hingga tempat tinggal membuat setiap kelompok menghadapi tantangan yang berbeda.

Karena itu, mereka menilai upaya mendorong konsumsi pangan yang lebih kaya bahan nabati perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok masyarakat, bukan sekadar memberikan pesan yang sama kepada semua orang.

Baca Juga: Aktivis Pro Partai Rakyat Kecoa Mogok Makan Hampir Sebulan, BB Turun 11 Kg: Saya Masih Hidup

Pendekatan yang lebih tepat sasaran dinilai dapat memberikan manfaat ganda: menurunkan tekanan terhadap iklim dan sumber daya alam, sekaligus membantu masyarakat memperoleh pola makan yang lebih sehat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa membangun sistem pangan berkelanjutan bukan hanya soal mengubah cara makanan diproduksi, tetapi juga memahami siapa yang mengonsumsinya dan bagaimana kebijakan dapat mendukung perubahan yang adil bagi setiap kelompok masyarakat.

Load More