- Dua WNA Belanda penyelenggara acara lari diskriminatif di Bali dijatuhi sanksi pencekalan oleh Ditjen Imigrasi.
- Komunitas Entourage Bali dituduh membedakan pendaftar lokal dan asing setelah protes viral di media sosial.
- Penyelenggara berdalih kesalahan sistem otomatis WhatsApp, sementara Imigrasi memperketat pengawasan visa turis ilegal.
Suara.com - Insiden diskriminasi yang melibatkan Warga Negara Asing (WNA) di Bali kembali mencoreng pariwisata Indonesia dan kini tengah menjadi sorotan tajam di kancah internasional.
Setidaknya dua media asing ternama, yakni ABC Australia dan The Telegraph, terpantau turut menyoroti skandal yang melibatkan komunitas lari bernama Entourage Bali.
Otoritas Imigrasi Bali secara resmi telah menjatuhkan sanksi larangan masuk (cekal) terhadap dua pria asal Belanda yang bertindak sebagai penyelenggara acara, setelah agenda yang mereka buat dinilai "fraught with discrimination against local residents".
Kehebohan ini bermula dari keluhan netizen Indonesia yang viral di media sosial. Kasus ini meledak ketika seorang perempuan asal Indonesia membagikan pengalaman pahitnya saat mencoba bergabung dengan komunitas Entourage Bali.
Melalui pesan daring, ia menerima balasan otomatis yang menyatakan bahwa pendaftarannya masih akan ditinjau. Namun ironisnya, ketika suaminya yang menggunakan profil dengan "Western name and number" mendaftar, aplikasinya langsung diterima seketika tanpa proses kurasi.
Hal ini memicu amarah publik, mengingat pembatasan akses publik berbasis rasial tersebut justru terjadi di atas tanah kedaulatan Indonesia.
Merespon gelombang protes dari masyarakat luas, Direktorat Jenderal Imigrasi bergerak cepat. Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, merilis pernyataan keras yang mengutuk penyelenggaraan acara tersebut. Ia menginstruksikan jajarannya untuk segera memberlakukan larangan masuk bagi "two foreign nationals involved" dalam kegiatan yang berbau rasialis tersebut.
“,Acara lari Silent Disco di Bali yang diselenggarakan oleh warga negara asing diduga melanggar peraturan dan sarat dengan diskriminasi terhadap warga setempat,” tegas Hendarsam Marantoko dalam rilis resminya.
Beliau juga menyoroti bahayanya eksklusivitas yang dibangun oleh segelintir turis asing di Bali, yang seolah-olah menciptakan ekosistem hukum mereka sendiri.
Baca Juga: Viral Anak Pejabat Gayo Lues Flexing, Asisten I Sekda Minta Maaf dan Beri Klarifikasi
“This running event represents a state within a state.” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, operasi pengawasan langsung digelar. “Saya telah menginstruksikan tim imigrasi Bali untuk memeriksa penyelenggara acara [dan] jika ada warga negara asing yang terlibat, segera tangkap mereka”
Kedua pria asal Belanda yang diidentifikasi dengan inisial JAS (35) dan HQV (37) diketahui telah melarikan diri dan meninggalkan Bali menuju Singapura pada Rabu malam.
Kendati demikian, negara tetap menjatuhkan sanksi tegas dengan memasukkan nama mereka ke dalam daftar hitam perjalanan.
Pihak berwenang juga kembali menekankan bahwa pemegang visa turis sama sekali tidak diizinkan untuk mengelola acara komersial maupun bertindak sebagai event organiser di wilayah hukum Republik Indonesia.
Eksklusivitas komunitas ini sebenarnya sudah mulai terendus pada bulan Mei lalu. Berdasarkan unggahan media sosial, Entourage Bali menggelar acara lari massal di jalanan padat kawasan Canggu, di mana sekelompok besar orang berlari melintasi jalan umum menggunakan penyuara telinga (headphone) dan melambaikan tangan ke udara.
Berita Terkait
-
Pencuri Ayam di Bali Tewas Diamuk Massa di Depan Anaknya, KSP: Main Hakim Sendiri Bukan Budaya Kita!
-
Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris
-
HIV AIDS di Sidoarjo Viral Usai Ribuan Kasus Pasien Anak Remaja, Kemenkes Buka Suara
-
Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita
-
5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Sarat Diskriminasi, Entourage Bali Ikut Disorot Pemerintah Australia
-
Karhutla Landa Kawasan Bromo, Empat Hektare Hutan Terbakar
-
Minat Menabung untuk Haji Meningkat, Tabungan Haji Bank Mega Syariah Melonjak 12 Persen
-
Pencuri Ayam di Bali Tewas Diamuk Massa di Depan Anaknya, KSP: Main Hakim Sendiri Bukan Budaya Kita!
-
Jangkau Wilayah Pelosok NTT, BRI Salurkan 82 Persen Total KUR di Nusa Tenggara Timur
-
Usai Bikin Menteri Pendidikan Mundur, Gerakan Kecoak Bakal Tumbangkan PM India?
-
Bocoran Jadwal CPNS 2026, Menpan RB Ungkap Ketentuan Pembukaan Seleksi
-
Tampang Abdul Ballout Pelaku Serangan Berdarah di Berlin Terafiliasi dengan ISIS
-
QRIS dan BI-FAST Jadi Senjata Perkuat UMKM, BI Dorong Pembiayaan Produktif
-
PSSI Harap-Harap Cemas! Klub Belum Kasih Izin, Justin Hubner Absen Bela Timnas Indonesia?