-
Kebakaran hutan ekstrem melahap wilayah Prancis dan Spanyol hingga memaksa 330.000 orang mengungsi.
-
Presiden Emmanuel Macron menyebut bencana kebakaran hutan ini sebagai yang terburuk sejak Perang Dunia II.
-
Gelombang panas ekstrem memicu kebakaran hebat yang memperparah krisis iklim di kawasan Eropa Selatan.
“Tidak diragukan lagi, hari esok akan lebih rumit dari hari ini,” lanjut Macron mengingatkan bahaya susulan.
Kondisi serupa dialami Spanyol yang mencatatkan rekor kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah negara tersebut.
Lebih dari 330.000 warga di Prancis dan Spanyol terpaksa mengungsi akibat kobaran api yang tak terkendali.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menegaskan bahwa bencana ini merupakan dampak langsung dari darurat iklim global.
"Apa yang kita alami bukanlah serangkaian insiden yang terpisah. Ini adalah konsekuensi dari darurat iklim yang membuat kebakaran hutan semakin ganas dan gelombang panas semakin sering terjadi," tegas Sánchez.
Kebakaran di wilayah Ávila Spanyol telah menghanguskan lahan seluas 500 kilometer persegi.
Warga lokal merasa marah dan tidak berdaya menyaksikan rumah serta lingkungan mereka hancur terbakar.
“Lihat bagaimana lembahnya terbakar. Lihat rumah-rumahnya, orang-orangnya,” ungkap David Gonzalez seorang tukang kebun setempat.
“Kami merasakan banyak kemarahan dan ketidakberdayaan. Ini sesuatu yang tidak manusiawi,” tambah Gonzalez dengan penuh emosi.
Baca Juga: Inggris Keluarkan Peringatan Perjalanan ke Spanyol Buntut Darurat Nasional Kebakaran Hutan
Suhu udara di Spanyol diproyeksikan melonjak melebihi 40 derajat Celsius pada pekan ini.
Sementara itu, wilayah Puglia di Italia selatan juga diserang kebakaran hutan yang memaksa ratusan wisatawan dievakuasi lewat jalur laut.
Bencana kebakaran hutan hebat yang melanda negara-negara Eropa Selatan seperti Prancis, Spanyol, dan Italia dipicu oleh gelombang panas ekstrem yang datang lebih awal dan berulang kali sepanjang tahun.
Hutan serta semak belukar yang mengering akibat kekeringan panjang mengubah kawasan vegetasi menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Fenomena iklim yang kian ganas ini membuktikan intensifikasi krisis iklim global yang memerlukan penanganan darurat dan aksi nyata antarnegara secara masif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Soal Peluang Harga Pertamax Turun Agustus, Wamen ESDM: Kita Ikuti Harga Pasar!
-
The Art of Solitude: Ketika Kesendirian Jadi Jalan Mengenal Diri Sendiri
-
Presiden Macron Sebut Kebakaran Hutan Eropa Lebih Buruk dari Kondisi Perang Dunia II
-
Zero Tolerance to Fraud, BRI Apresiasi Langkah Kepolisian Tangkap DPO Kasus Penipuan
-
4 Pelembap Bibir dengan Kandungan Petroleum Jelly untuk Bibir Kering dan Pecah-Pecah
-
Mazda Akhirnya Produksi Mobil di Indonesia, CX-30 Jadi Model Pertama yang Dirakit Lokal
-
Sekda Sulsel Dorong OPD Perkuat Pelayanan Publik Jelang Penilaian Ombudsman 2026
-
5 Lipstik Lokal untuk Bibir Hitam di Bawah Rp50 Ribu, Pigmentasinya Juara!
-
Merek Apparel Bandung Rabbit & Wheels Berhasil Ekspansi ke Luar Negeri
-
Luncurkan OJA 3140 di Inagritech 2026, Mahindra Dukung Mekanisasi Pertanian Nasional