News / Internasional
Selasa, 28 Juli 2026 | 17:03 WIB
Shinkansen, kereta cepat di Jepang. (Pixabay/AndyLeungHK)
Baca 10 detik
  • Gempa magnitudo 7,1 mengguncang Kumamoto Jepang dan memicu pemadaman listrik 40.000 rumah.

  • Perjalanan kereta cepat Shinkansen terhenti total sementara pabrik chip TSMC dan Sony memeriksa kerusakan.

  • Peringatan tsunami setinggi satu meter akhirnya dicabut dan fasilitas nuklir dinyatakan aman dari kerusakan.

Suara.com - Gempa bumi besar bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di kawasan selatan Jepang pada hari Selasa. Guncangan dahsyat ini memutus pasokan listrik ke puluhan ribu rumah, menghentikan operasional kereta api, serta memicu peringatan tsunami.

Sektor industri manufaktur teknologi global yang beroperasi di wilayah tersebut langsung terdampak akibat bencana ini. Pabrik raksasa elektronik Sony dan produsen chip terbesar dunia TSMC tengah memeriksa kondisi fasilitas operasional mereka.

Seorang juru bicara Sony menyatakan bahwa pihak perusahaan sedang memantau dan memeriksa situasi di lapangan.

Gempa magnitudo 7,1 guncang Kumamoto Jepang dan memicu peringatan tsunami setinggi satu meter. (Google)

Sementara itu, pihak TSMC belum memberikan tanggapan resmi saat diminta konfirmasi mengenai kondisi pabrik mereka.

Pemerintah Jepang melayangkan peringatan darurat untuk tujuh prefektur di Pulau Kyushu, meliputi Kumamoto, Nagasaki, Kagoshima, Fukuoka, Saga, Oita, dan Miyazaki.

Badan Meteorologi Jepang sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai satu meter.

Peringatan tsunami tersebut akhirnya dicabut sekitar 2 jam kemudian setelah petugas tidak mendeteksi adanya pergerakan gelombang laut yang membahayakan.

Juru bicara Badan Meteorologi Jepang menjelaskan alasan pencabutan peringatan gelombang tinggi tersebut secara mendetail.

“Gempa bumi ini terjadi di darat, dan sejauh ini tidak ada aktivitas tsunami yang teramati. Oleh karena itu, kami berharap dapat mencabut peringatan tsunami relatif lebih awal, tergantung pada kondisi permukaan laut di masa mendatang,” tulis BMKG Jepang, Selasa (28/7/2026) sore.

Baca Juga: Jepang Gempa Bumi Besar 7,1 Magnitudo, Ada Peringatan Tsunami

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengonfirmasi bahwa guncangan gempa menimbulkan korban luka, kerusakan gedung, dan kebakaran.

Otoritas setempat bergerak cepat untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan fisik maupun korban jiwa di seluruh area terdampak.

“Kami masih menilai tingkat cedera dan kerusakan properti, tetapi saya telah diberi tahu bahwa sudah ada beberapa orang yang terluka,” ujar Takaichi.

Kondisi darurat dilaporkan memburuk di beberapa wilayah akibat kerusakan sarana transportasi umum dan fasilitas publik.

“Pemadaman listrik dan kebakaran terjadi di beberapa wilayah, serta jalan dan jembatan rusak dan bangunan runtuh.”

Kerusakan sarana vital membuat aktivitas warga setempat terhenti total sesaat setelah gempa terjadi.

Load More