News / Internasional
Rabu, 29 Juli 2026 | 09:52 WIB
Titik gempa bumi Jepang (JapanTimes)
Baca 10 detik
  • Gempa bermagnitudo 7,1 di Prefektur Kumamoto menyebabkan 13 orang meninggal dunia.

  • Puluhan orang terjebak di bawah reruntuhan lantai dua Mall Aeon yang ambruk.

  • Pemerintah Jepang mendirikan satuan tugas darurat untuk mempercepat evakuasi korban bencana.

Suara.com - Sebanyak 13 warga Jepang dipastikan meninggal dunia akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,1 yang menghancurkan kawasan Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu. Angka kematian terbaru ini membuktikan tingginya tingkat kerusakan infrastruktur publik serta ancaman nyata dari reruntuhan bangunan komersial di kawasan terdampak.

Pemerintah Jepang melancarkan operasi penyelamatan berskala besar guna menyisir puluhan pengunjung yang diduga kuat masih terperangkap di dalam bangunan Mall Aeon yang ambruk. Tim SAR berpacu dengan waktu di tengah ancaman gempa susulan serta potensi bahaya dari struktur gedung yang rapuh.

Kerusakan fatal pada pusat perbelanjaan utama tersebut menjadi pusat perhatian evakuasi karena lantai dua gedung dilaporkan runtuh total dan menimbun area di bawahnya. Tragedi di Mall Aeon ini memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak gempa terhadap bangunan publik modern di wilayah pesisir Kyushu.

Ledakan di Aeon Mall Kumamoto setelah gempa Jepang [via News Today]

"Per pukul 08.30 waktu setempat (06.00 WIB) jumlah korban tewas mencapai 13 orang," kata Takaichi dalam konferensi pers di Tokyo, Rabu.

Otoritas berwenang terus berkoordinasi untuk mempercepat proses penanganan darurat dan pencarian korban di lokasi bencana.

PM Takaichi menyatakan pihak berwenang akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk segera mengevakuasi para korban.

Tragedi mencekam sempat terjadi di Mall Aeon saat kepulan asap putih mendadak membumbung tinggi dari area gedung sesaat setelah ledakan misterius terdengar. Petugas pemadam kebakaran langsung menerima banjir panggilan darurat dari warga yang panik di sekitar lokasi kejadian.

Guncangan keras memicu keruntuhan parsial pada dinding luar serta atap gedung hingga memperlihatkan kerangka besi bangunan yang bolong menganga. Di tengah situasi membahayakan tersebut, sekitar 200 pengunjung berhamburan menyelamatkan diri menuju area parkir terbuka.

Satuan tugas darurat kini resmi beroperasi langsung di bawah kendali pusat penanganan krisis kantor perdana menteri. Pemerintah memprioritaskan pemulihan jalur komunikasi dan alat berat untuk mengangkat material beton yang menimbun para korban.

Baca Juga: BMKG Pastikan Gempa M6,8 di Jepang Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Petugas gabungan juga bersiap menghadapi risiko bahaya sekunder di sepanjang garis pantai Teluk Ariake dan Teluk Yatsushiro.

Bencana alam ini bermula ketika gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,1 menguncang wilayah Pulau Kyushu di bagian barat daya Jepang pada Selasa (28/7). Tak lama berselang, guncangan susulan bermagnitudo 6,1 kembali memicu kepanikan warga di Prefektur Kumamoto dan sekitarnya.

Ancaman bertambah serius ketika pihak berwenang sempat menerbitkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir Teluk Ariake dan Teluk Yatsushiro. Rangkaian peristiwa gempa ini mengingatkan kembali pada kerentanan seismik tinggi yang menyelimuti kawasan selatan Kepulauan Jepang.

Load More