News / Nasional
Rabu, 29 Juli 2026 | 16:43 WIB
Ketua Umum DPP PSI Kaesang Pangarep menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Papua Pegunungan serta melantik Wakil Bupati Tolikara, Yotam Wonda sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (DPW PSI) Papua Pegunungan, Jumat (8/5/2026). [Dok PSI]
Baca 10 detik
  • Kaesang Pangarep berpeluang besar maju sebagai calon DPR dari Jawa Tengah pada Pemilu 2029 berkat dukungan Jokowi.
  • Peta politik Jawa Tengah dinilai telah berubah karena pemilih lebih mengutamakan figur kandidat daripada loyalitas terhadap partai tertentu.
  • Peluang Kaesang masih dipengaruhi oleh dinamika internal dan potensi masalah hukum yang dapat berdampak pada elektabilitas partai PSI.

Suara.com - Rencana Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep maju sebagai calon anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah pada Pemilu 2029 dinilai berpeluang besar ditopang pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ridho Al-Hamdi menilai efek elektoral keluarga Jokowi masih sangat kuat dan berpotensi menjadi modal utama Kaesang merebut kursi Senayan.

"Apalagi Jokowi mau (ikut) turun, ya bisa jadi, karena anaknya kan gitu ya, dinastinya Jokowi masih akan terus bertengger sampai 2029," ujar Ridho kepada Suara.com, Rabu (29/7/2026).

Menurut Ridho, keterlibatan Jokowi dalam kontestasi politik bukanlah hal baru.

Ia menilai mantan presiden itu telah menunjukkan kesediaannya turun langsung dalam Pilpres untuk memenangkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka. Karena itu, membantu Kaesang dalam pemilihan legislatif dinilai jauh lebih memungkinkan.

"Apalagi cuma sekadar nyaleg kan kursinya banyak, orang sebagai capres aja dia (Jokowi) turun tangan total, apalagi cuma nyaleg, ya bisa aja lah itu," ucapnya.

Ridho juga menilai pilihan Kaesang maju dari Jawa Tengah tidak bisa dipandang sebagai langkah yang mustahil, meski provinsi tersebut selama ini dikenal sebagai basis kuat PDI Perjuangan (PDIP).

Menurutnya, peta politik di Jawa Tengah telah berubah, di mana figur kandidat kini lebih menentukan dibanding sekadar identitas partai.

"Pemilih kita ini juga tidak melulu karena faktor partai ya, tapi karena faktor perseorangan, figuritas, dan juga karena faktor politik uang," tandasnya.

Baca Juga: Aroma Persaingan Pileg 2029 Mulai Terasa, Waketum PAN Soroti Keberanian Kaesang Nyaleg di Jateng

Ia mencontohkan kekalahan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah pada Pilpres 2024 sebagai bukti bahwa dominasi "Kandang Banteng" tidak lagi sepenuhnya solid.

Basis pemilih yang selama ini dianggap loyal, menurutnya, mulai terbelah sehingga figur dengan tingkat popularitas tinggi tetap memiliki peluang menang.

"Walaupun Jateng "Kandang Banteng", toh nyatanya Ganjar kalah juga kan. Ya artinya basis pemilih militan Ganjar di Jawa Tengah ya terbelah juga," ungkapnya.

Jokowi dan putra bugsunya yang juga Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep. (Ist)

Meski demikian, Ridho mengingatkan jalan Kaesang menuju DPR belum sepenuhnya mulus.

Selain bergantung pada kekuatan figur Jokowi, peluang tersebut juga dipengaruhi dinamika internal PSI. Menurutnya, apabila muncul persoalan hukum yang menimpa elite partai, citra PSI berpotensi terdampak dan ikut memengaruhi elektabilitas partai.

"Tapi tergantung trennya PSI nih, kalau Raja Juli ketangkap KPK kan menjadi drop lagi (elektabilitasnya) kan," ucapnya.

Karena itu, Ridho menilai masih terlalu dini memastikan peluang Kaesang pada Pemilu 2029.

Namun, satu hal yang menurutnya sulit diabaikan adalah pengaruh politik Jokowi yang masih berpotensi menjadi faktor penting dalam pertarungan memperebutkan kursi DPR dari Jawa Tengah.

Load More