- Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep akan maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil Jawa Tengah V.
- Kaesang menantang basis kuat PDIP dan Puan Maharani demi memperluas pengaruh politik partainya di Jateng.
- Analis menilai Kaesang memiliki modal pengaruh Jokowi, namun kemenangan bergantung pada kekuatan mesin partai akar rumput.
Suara.com - Keputusan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V langsung menyita perhatian.
Langkah itu bukan sekadar perebutan satu kursi di Senayan, tetapi juga dipandang sebagai upaya menantang dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di wilayah yang selama ini dikenal sebagai "Kandang Banteng".
Tak tanggung-tanggung, dapil yang dipilih Kaesang juga dikenal sebagai "Dapil Neraka".
Wilayah yang meliputi Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo itu selama bertahun-tahun menjadi basis tokoh-tokoh besar PDIP, termasuk Ketua DPR RI Puan Maharani.
Karena itu, pencalonan Kaesang tak hanya dibaca sebagai strategi elektoral, tetapi juga pertarungan simbolik.
Mampukah PSI mewujudkan ambisinya mengubah Jawa Tengah menjadi "Kandang Gajah", atau justru kembali membuktikan kokohnya dominasi PDIP?
Mengapa Memilih Jateng V?
Pilihan Kaesang maju dari Dapil Jawa Tengah V disebut bukan keputusan mendadak.
Rencana tersebut telah dibahas sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar sebagai bagian dari strategi penempatan kader di daerah yang memiliki nilai politik penting.
Kepastian itu kemudian diumumkan dalam agenda partai di Solo.
Baca Juga: 5 Bupati di Jawa Tengah yang Terjaring OTT KPK dari Januari hingga Juli 2026
"Alhamdulillah dua hari lalu di acara Rakorda PSI Solo, beliau menyampaikan dengan tegas bahwa beliau akan maju menjadi calon anggota legislatif dari Dapil 5 Jawa Tengah, yaitu Solo dan sekitarnya," kata Ketua DPW PSI Jawa Tengah, Antonius Yogo Prabowo atau Bestari, Selasa (28/7/2026).
Menurut Bestari, pilihan tersebut berkaitan erat dengan visi besar PSI menjadikan Jawa Tengah sebagai basis politik baru partai.
Ambisi itu bahkan telah disampaikan Kaesang sejak awal tahun ketika mendeklarasikan Jawa Tengah sebagai "Kandang Gajah".
Seberapa Kuat "Kandang Banteng"?
Optimisme PSI akan diuji oleh realitas politik di lapangan. Sebab, Dapil Jawa Tengah V selama ini menjadi salah satu basis terkuat PDIP.
Pada Pemilu 2014, dari total 2.010.828 suara sah, PDIP berhasil mengamankan tiga dari delapan kursi DPR RI yang diperebutkan.
Di pemilu yang sama, Puan Maharani meraih 326.927 suara, menjadikannya salah satu caleg dengan perolehan suara tertinggi secara nasional.
Dominasi itu berlanjut pada Pemilu 2019. Puan kembali mencatatkan rekor nasional dengan 404.034 suara, disusul politikus PDIP Aria Bima yang juga meraih dukungan besar di dapil tersebut.
Meski perolehan suaranya menurun pada Pemilu 2024, Puan tetap menjadi caleg dengan suara terbanyak di Dapil Jawa Tengah V setelah memperoleh 297.366 suara.
Rekam jejak itu menunjukkan bahwa Jawa Tengah, khususnya Solo Raya, masih menjadi benteng politik PDIP yang tidak mudah ditembus.
Modal Besar Jokowi
Di sisi lain, Kaesang memiliki modal politik yang tak dimiliki banyak calon lain: pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi.
Sebagai putra bungsu Jokowi, Kaesang diperkirakan akan mendapat dukungan langsung dari sang ayah selama masa kampanye.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai efek Jokowi masih cukup kuat, terutama di Solo dan wilayah sekitarnya. Hal itu bisa menjadi modal penting yang dapat membantu Kaesang meraih suara signifikan.
"Kaesang potensial meraup suara layak di Dapil Jateng V mengingat dominasi dan pengaruh Jokowi juga ada di wilayah itu," kata Dedi kepada Suara.com.
Namun, modal figur belum tentu cukup untuk menggoyahkan dominasi PDIP.
Analis Politik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai Dapil Jawa Tengah V merupakan basis politik yang telah dibangun PDIP selama puluhan tahun melalui jaringan organisasi, struktur partai, dan hubungan yang kuat dengan pemilih.
Menurutnya, dalam sistem politik Indonesia, popularitas tokoh memang penting, tetapi kemenangan tetap sangat ditentukan oleh kekuatan mesin partai di tingkat akar rumput.
"Keberhasilan Kaesang akan sangat bergantung pada kemampuan PSI membangun sel-sel dukungan politik yang efektif hingga tingkat akar rumput, bukan hanya mengandalkan figur ketua umum," jelas Kristian kepada Suara.com.
Lebih dari Sekadar Mencari Kursi DPR
Keputusan Kaesang bertarung di wilayah yang menjadi basis lawan merupakan strategi politik yang sarat makna.
Kristian menyebut seorang ketua umum partai seperti Kaesang, tidak selalu memilih daerah yang mudah dimenangkan. Bertarung di basis lawan dapat menjadi pesan bahwa partainya siap bersaing secara langsung dengan kekuatan politik dominan.
Pencalonan Kaesang dapat dibaca bukan hanya sebagai upaya memperoleh kursi DPR, tetapi juga sebagai strategi memperkuat posisi PSI di Jawa Tengah, khususnya di Solo Raya yang memiliki nilai emosional bagi keluarga Jokowi.
Menurut Kristian, pilihan Solo juga mengandung simbol politik yang kuat.
Kota itu merupakan tempat lahir dan berkembangnya karier politik Jokowi, sehingga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
"Strategi dan simbol politik dalam kasus ini tidak saling bertentangan, melainkan berjalan bersamaan," ungkapnya.
Pertarungan Politik atau Pertarungan Keluarga?
Dedi Kurnia Syah melihat peluang Kaesang lolos ke Senayan cukup terbuka apabila PSI mampu memenuhi ambang perolehan suara di dapil tersebut.
Namun, ia menilai menggoyahkan dominasi Puan Maharani bukan perkara mudah.
"Apakah bisa menggeser dominasi Puan, ini yang belum tentu terjadi karena pertarungan Pileg miliki porsi minimum, sehingga memungkinkan jika PSI berhasil lolos maka baik Kaesang maupun Puan tetap bisa lolos bersamaan," ujarnya.
Lebih jauh, Dedi menilai pertarungan ini memiliki dimensi yang lebih besar daripada sekadar kompetisi antarpartai.
"Kaesang jelas berambisi untuk melawan PDIP secara langsung, perseteruan Megawati dan PDIP dengan Jokowi sudah bukan lagi ranah politik murni, bagi Kaesang jelas itu pertarungan keluarga," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Duel Simbolik Kaesang di Dapil Neraka: Mampukah Efek Jokowi Runtuhkan Dominasi Puan dan PDIP?
-
WhatsApp Hadirkan Panggilan Langsung di Browser, Meta Perluas Inovasi Komunikasi Tanpa Aplikasi
-
Dukung Lingkungan Bersih, BRI Serahkan Bantuan Truk Sampah ke Kodam IX/Udayana
-
BPDP Ungkap 41% Industri Sawit Nasional Dikelola Rakyat Langsung, Serap 16,5 Juta Tenaga Kerja
-
Perkuat Ekosistem Mode Nasional, BTN Dorong Pertumbuhan Sektor Kreatif Lewat IFW 2026
-
Dari Ibu Penyayang ke Pembunuh Berdarah Dingin: Lindsay Clancy Habisi 3 Anak Kandung
-
Sawit RI Kerap Dihantam Black Campaign, Dianggap Ancaman Bisnis Global
-
Maraknya PHK di Emiten, Perusahaan Wajib Transparan ke Investor
-
Fujifilm Rilis Varian Baru Instax Mini 99 ke RI, Kamera Analog Premium Harga Rp 3,6 Juta
-
Ramalan 12 Shio Hari ini 30 Juli 2026: Shio Ayam Paling Hoki, Babi Harus Waspada