-
Serangan udara AS ke Iran dinilai tidak mengalami perluasan target maupun peningkatan intensitas.
-
Mantan pejabat Pentagon menyebut Donald Trump berusaha menjaga ruang diplomasi tetap terbuka.
-
Serangan di Pulau Qeshm menewaskan tiga orang warga sipil termasuk seorang balita.
Suara.com - Gempuran udara Amerika Serikat ke wilayah Iran terbaru dinilai tidak mengalami peningkatan intensitas maupun perluasan cakupan sasaran militer. Kebijakan Presiden Donald Trump tersebut diyakini menjadi taktik untuk menahan diri agar opsi negosiasi diplomatik tetap terbuka.
David Des Roches, mantan pejabat Pentagon, menyebutkan bahwa serangan ini sekadar mengulang pola gempuran sebelumnya pada bulan ini. Menurutnya, belum ada indikasi kuat bahwa Washington mulai menyasar fasilitas penting berkarakter ganda di Iran.
"Saya memperkirakan adanya peningkatan intensitas atau perluasan target," katanya kepada Al Jazeera.
"Saya juga berharap dia [Trump] akan menyertakan target guna ganda. Sejauh ini, kita belum melihat indikasi hal tersebut, jadi ini tampaknya bukan serangan yang sangat mengagumkan."
Des Roches menambahkan bahwa tindakan Trump mungkin didasari pertimbangan proporsionalitas.
"Mencoba menjaga hal-hal tetap proporsional, atau menjaga hal-hal tetap terbuka untuk diplomasi."
Ia menilai Amerika Serikat tidak mengantongi strategi jangka panjang yang matang melainkan hanya mengandalkan rencana operasional berbasis kekuatan udara.
"Mereka memilih untuk melanjutkannya dengan kekuatan udara saja, yang – kecuali Anda berurusan dengan negara yang sangat kecil – membutuhkan waktu lama, dan Anda selalu mengakhiri dengan memperluas kumpulan target Anda, dan Anda selalu harus melakukannya lebih lama dari yang Anda bayangkan," katanya.
Fokus militer Washington saat ini semata-mata dibatasi untuk meredam ancaman langsung Teheran terhadap negara-negara tetangganya. Orientasi ini memicu perbedaan sudut pandang dengan Tel Aviv yang memandang ancaman tersebut secara lebih krusial.
Baca Juga: Tanker Gas Amerika Serikat di Mesir Diserang Drone, Meledak Keras
"Fokus militer Trump hanya pada menghentikan kemampuan Iran untuk mengancam tetangganya. Jadi ada perbedaan dengan Israel, yang melihat Iran sebagai ancaman eksistensial," tambahnya.
Sementara itu, rangkaian ledakan keras telah mengguncang sepanjang pesisir selatan Iran hingga kawasan pusat Kazerun akibat bombardment armada AS.
Laporan media lokal Iran mengonfirmasi bahwa serangan terhadap gedung pemukiman di Pulau Qeshm menewaskan pasangan suami istri beserta anak mereka yang berusia dua tahun. Insiden tragis di kawasan pulau tersebut juga menyebabkan dua anak lainnya mengalami luka-luka.
Suara dentuman besar dilaporkan terdengar di Pulau Kish, Bushehr, serta empat titik wilayah di Provinsi Khuzestan yang menjadi pusat industri minyak Iran.
Di sisi lain, Yordania mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menjatuhkan lima rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat seiring keputusan Washington melancarkan serangkaian operasi serangan udara sepanjang bulan ini. Operasi militer yang berulang di kawasan Teluk dan pusat industri strategis Iran tersebut terus memicu kekhawatiran global akan meluasnya dampak stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Aneh, Kenapa Rudal Amerika Serikat Gempur Lokasi yang Sama di Iran dari Serangan Sebelumnya?
-
Riset Doktor UNY Tawarkan Model Evaluasi Baru bagi Calon Guru Madrasah Ibtidaiyah
-
Spider-Man: Brand New Day Jadi Street Level yang Lebih Tangguh dan Dewasa
-
Pelican Crossing Pengganti JPO Tendean Sudah Bisa Digunakan, Pejalan Kaki Kini Tinggal Pencet Tombol
-
Bayar Pakai BRImo, Sosis Indomaret Dapat Diskon Spesial Bulan Ini!
-
Tukin TNI Naik Berapa? Ini Besaran Resminya Menurut Perpres 42 Tahun 2026
-
7 Penyebab Umum Flek Hitam di Wajah, Bukan Hanya karena Sinar Matahari
-
IHSG Tetap Ijo Hingga Sesi I, BBCA dan BBRI Meroket
-
HKI Ngadu ke Menperin, Sebut Pemda Lamban Terbitkan Izin Kawasan Industri
-
PEVC 2026 Akan Digelar Oktober, Bahas Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia