News / Internasional
Kamis, 30 Juli 2026 | 13:02 WIB
Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. [Dok. Antara]
Baca 10 detik
  • Serangan udara AS ke Iran dinilai tidak mengalami perluasan target maupun peningkatan intensitas.

  • Mantan pejabat Pentagon menyebut Donald Trump berusaha menjaga ruang diplomasi tetap terbuka.

  • Serangan di Pulau Qeshm menewaskan tiga orang warga sipil termasuk seorang balita.

Suara.com - Gempuran udara Amerika Serikat ke wilayah Iran terbaru dinilai tidak mengalami peningkatan intensitas maupun perluasan cakupan sasaran militer. Kebijakan Presiden Donald Trump tersebut diyakini menjadi taktik untuk menahan diri agar opsi negosiasi diplomatik tetap terbuka.

David Des Roches, mantan pejabat Pentagon, menyebutkan bahwa serangan ini sekadar mengulang pola gempuran sebelumnya pada bulan ini. Menurutnya, belum ada indikasi kuat bahwa Washington mulai menyasar fasilitas penting berkarakter ganda di Iran.

"Saya memperkirakan adanya peningkatan intensitas atau perluasan target," katanya kepada Al Jazeera.

Salah satu kapal perang AS, USS Chandler. [AFP]

"Saya juga berharap dia [Trump] akan menyertakan target guna ganda. Sejauh ini, kita belum melihat indikasi hal tersebut, jadi ini tampaknya bukan serangan yang sangat mengagumkan."

Des Roches menambahkan bahwa tindakan Trump mungkin didasari pertimbangan proporsionalitas.

"Mencoba menjaga hal-hal tetap proporsional, atau menjaga hal-hal tetap terbuka untuk diplomasi."

Ia menilai Amerika Serikat tidak mengantongi strategi jangka panjang yang matang melainkan hanya mengandalkan rencana operasional berbasis kekuatan udara.

"Mereka memilih untuk melanjutkannya dengan kekuatan udara saja, yang – kecuali Anda berurusan dengan negara yang sangat kecil – membutuhkan waktu lama, dan Anda selalu mengakhiri dengan memperluas kumpulan target Anda, dan Anda selalu harus melakukannya lebih lama dari yang Anda bayangkan," katanya.

Fokus militer Washington saat ini semata-mata dibatasi untuk meredam ancaman langsung Teheran terhadap negara-negara tetangganya. Orientasi ini memicu perbedaan sudut pandang dengan Tel Aviv yang memandang ancaman tersebut secara lebih krusial.

Baca Juga: Tanker Gas Amerika Serikat di Mesir Diserang Drone, Meledak Keras

"Fokus militer Trump hanya pada menghentikan kemampuan Iran untuk mengancam tetangganya. Jadi ada perbedaan dengan Israel, yang melihat Iran sebagai ancaman eksistensial," tambahnya.

Sementara itu, rangkaian ledakan keras telah mengguncang sepanjang pesisir selatan Iran hingga kawasan pusat Kazerun akibat bombardment armada AS.

Laporan media lokal Iran mengonfirmasi bahwa serangan terhadap gedung pemukiman di Pulau Qeshm menewaskan pasangan suami istri beserta anak mereka yang berusia dua tahun. Insiden tragis di kawasan pulau tersebut juga menyebabkan dua anak lainnya mengalami luka-luka.

Suara dentuman besar dilaporkan terdengar di Pulau Kish, Bushehr, serta empat titik wilayah di Provinsi Khuzestan yang menjadi pusat industri minyak Iran.

Di sisi lain, Yordania mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menjatuhkan lima rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat seiring keputusan Washington melancarkan serangkaian operasi serangan udara sepanjang bulan ini. Operasi militer yang berulang di kawasan Teluk dan pusat industri strategis Iran tersebut terus memicu kekhawatiran global akan meluasnya dampak stabilitas keamanan di Timur Tengah.

Load More