News / Internasional
Jum'at, 31 Juli 2026 | 12:06 WIB
Bendera Spanyol
Baca 10 detik
  • Wali Kota Ceuta mendesak pengiriman tentara Spanyol akibat gelombang migran Maroko.

  • Serikat polisi Jupol menilai aksi migrasi sebagai alat tekanan politik dari Maroko.

  • Spanyol dan Maroko sepakat mengembalikan seluruh migran ilegal secara secepat mungkin.

Suara.com - Pemerintah Spanyol menghadapi desakan darurat dari wilayah otonom Ceuta yang kewalahan menampung ribuan kedatangan migran asal Maroko. Kondisi ini membuat pertahanan kawasan Afrika Utara tersebut menuntut bantuan personel militer secara langsung.

Langkah tegas ini diambil menyusul aksi nekat ribuan orang yang menerobos masuk wilayah Spanyol dengan cara berenang serta berjalan kaki. Eskalasi situasi memaksa otoritas lokal meminta pemerintah pusat segera menutup total akses perbatasan.

Dinamika krisis perbatasan ini tidak lagi dipandang sekadar isu kemanusiaan biasa, melainkan ancaman stabilitas keamanan kawasan. Pemerintah daerah bahkan mendorong penetapan status darurat nasional demi menjamin perlindungan warga.

Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas menegaskan perlunya tindakan nyata dari aparat keamanan pusat untuk mengendalikan situasi di lapangan.

"Kami menuntut agar pasukan dan lembaga keamanan negara diperkuat, serta agar tentara dikerahkan untuk menjamin keutuhan perbatasan dan keselamatan warga," kata Vivas.

Tudingan tajam muncul dari serikat pekerja kepolisian Spanyol, Justicia Policial (Jupol), yang menyoroti motif di balik pergerakan massa ini. Mereka menilai ada strategi politik terselubung yang dimainkan oleh pihak Maroko melalui pergerakan warga tersebut.

Jupol mengkritik keras fenomena ini sebagai langkah taktis dalam hubungan antarnegara.

"Maroko telah memanfaatkan celah peluang dalam strategi perang hibridanya, sekali lagi, menggunakan tekanan migrasi terhadap Ceuta sebagai alat pemerasan politik," menurut pernyataan Jupol di platform X.

Guna meredam krisis yang makin meluas, diplomasi cepat langsung ditempuh oleh Madrid dan Rabat. Kantor berita EFE melaporkan bahwa Spanyol dan Maroko telah menyepakati prosedur pemulangan seluruh migran ilegal ke daerah asal secepat mungkin.

Baca Juga: Tinggalkan Kerja di Luar Negeri, Eks PMI Justru Cuan dari Makanan Sehat

Kesepakatan repatriasi cepat ini diharapkan mampu menghentikan gelombang penyeberangan ilegal yang terus terjadi. Pemulangan secara cepat menjadi fokus utama untuk mengurangi beban fasilitas penerimaan di kota tersebut.

Tekanan di garis batas Ceuta mencapai titik krusial dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir. Sebanyak 1.500 hingga 2.000 migran tercatat berhasil melintasi perbatasan dan memasuki wilayah otonom Spanyol tersebut.

Kota otonom Ceuta memiliki posisi geografis unik sebagai kantong wilayah Spanyol yang berbatasan langsung dengan daratan Maroko di Afrika Utara. Kondisi geografis ini menjadikannya salah satu titik perlintasan utama bagi warga Afrika yang ingin menuju daratan Eropa.

Lonjakan migrasi yang tiba-tiba kerap memicu ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Maroko terkait pengawasan garis pantai. Penanganan wilayah ini senantiasa membutuhkan koordinasi ketat serta respon cepat dari kedua negara penanggung jawab.

Load More