News / Internasional
Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10 WIB
Harga minyak dunia merosot lebih lima persen setelah Donald Trump membatalkan serangan ke Iran. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Keputusan Donald Trump batalkan serangan ke Iran memicu penurunan harga minyak dunia lima persen.

  • Minyak acuan Brent turun ke 83,40 dolar AS dan WTI merosot menjadi 79,60 dolar AS.

  • Kelompok OPEC+ bersiap menambah pasokan energi seiring berlanjutnya diplomasi di kawasan Timur Tengah.

Suara.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan serangan militer ke Iran langsung meredam gejolak pasar energi global. Langkah diplomasi ini memicu penurunan harga minyak dunia hingga melampaui 5 persen dalam waktu singkat.

Kawasan Timur Tengah kini berpeluang terhindar dari krisis pasokan bahan bakar akibat redanya ketegangan geopolitik dua negara tersebut. Pelaku pasar keuangan menyambut positif dimulainya kembali negosiasi damai untuk mengamankan jalur distribusi utama.

Sinyal perdamaian ini mengubah tren lonjakan harga energi secara mendadak setelah ketegangan berbulan-bulan. Investor meyakini risiko penghentian operasional kilang minyak regional kini berkurang drastis.

Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].

Patokan harga internasional Brent merosot hingga menyentuh kisaran 83,40 dolar AS atau setara Rp1,5 juta per barel. Penurunan drastis ini tercatat pada perdagangan Senin pukul 13.05 WIB.

Koreksi serupa menimpa acuan pasar Amerika Serikat West Texas Intermediate yang anjlok enam persen. Komoditas tersebut kini diperdagangkan pada level 79,60 dolar AS atau sekitar Rp1,4 juta per barel.

Desakan dari sejumlah sekutu dekat Washington di kawasan Arab berperan besar menahan aksi militer Amerika Serikat. Kerajaan Arab Saudi menjadi salah satu pihak yang aktif mendorong Gedung Putih mengutamakan meja perundingan.

Trump juga menegaskan pentingnya kepastian keamanan jalur pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Pembukaan kembali koridor strategis tersebut menjadi syarat utama untuk menstabilkan pasokan bahan bakar global.

Sebelumnya, konflik sengit sepanjang Juli sempat mengerek harga minyak Brent melonjak hingga 25 persen. Kegagalan kesepakatan damai sementara kala itu menyumbat arus distribusi energi dari Selat Hormuz sampai Laut Merah.

Ancaman gangguan lalu lintas kapal tanker sempat menimbulkan kekhawatiran meluas di kalangan penjual dan pembeli komoditas. Kondisi tersebut sempat menahan posisi harga minyak pada level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Iran Klaim Tidak Ada Mediator Baru Dalam Perundingan Damai dengan AS, Tetap Pakistan

Kebijakan kelompok produsen OPEC+ juga ikut memperkuat tekanan penurunan harga minyak mentah di pasar pasifik. Para anggota sepakat melonggarkan batasan produksi melalui penambahan kuota secara bertahap.

Keputusan OPEC+ melonggarkan pemangkasan kuota tahun 2023 menjadi sinyal positif pemulihan pasokan bahan bakar secara global. Mereka siap menambah volume pengiriman lebih banyak begitu stabilitas keamanan Timur Tengah terwujud sepenuhnya.

Guncangan pasar minyak sejatinya berakar dari eskalasi militer Amerika Serikat dan Iran yang memuncak pertengahan tahun ini. Ketidakpastian politik di kawasan Teluk selalu menjadi faktor utama penentu naik turunnya tarif energi dunia.

Load More