- DPR RI menyetujui pengganti anggota Ombudsman dalam Rapat Paripurna di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
- Pengamat menilai proses penetapan tersebut tidak transparan karena mengabaikan kandidat perempuan berperingkat tertinggi.
- Institut Sarinah mendesak penghentian proses administrasi agar keputusan cacat prosedur tidak disahkan presiden.
Suara.com - Penetapan anggota Pengganti Antar Waktu (PAW) Ombudsman RI oleh DPR RI menuai kritik. Sejumlah pengamat menilai proses tersebut tidak transparan dan diduga mengabaikan kandidat perempuan yang memperoleh peringkat tertinggi dalam uji kelayakan dan kepatutan.
Sebelumnya, DPR menyetujui pengganti Hery Susanto yang tersangkut kasus korupsi dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-26 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Namun, dalam rapat tersebut DPR tidak mengumumkan secara terbuka nama anggota PAW yang disetujui.
Direktur Institut Sarinah Eva Kusuma Sundari menilai keputusan itu perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan hasil proses seleksi yang telah dijalankan.
Menurut Eva, berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan calon anggota Ombudsman RI, Wahidah Suaib berada di urutan pertama dari daftar calon pengganti atau peringkat ke-10 secara keseluruhan.
"Wahidah itu ada di posisi nomor sepuluh berdasarkan proses yang legitimate," ujarnya dalam pertemuan daring, Kamis (6/8/2026).
Eva menilai langkah Komisi II DPR tidak hanya mencederai kredibilitas lembaga legislatif, tetapi juga mengabaikan hak konstitusional perempuan untuk memperoleh kesempatan yang setara dalam jabatan publik.
"Tugas DPR untuk mentransformasi budaya kita yang dominasi laki-laki itu gagal dilakukan dan demokrasi kita mundur," tegasnya.
Ia juga meminta proses administrasi penetapan anggota PAW Ombudsman tidak dilanjutkan sebelum persoalan tersebut diperbaiki.
Baca Juga: Saepul Rencanakan Mutilasi Depok Demi Gasak Motor Korban
Menurutnya, pengawasan harus dilakukan hingga ke Menteri Sekretaris Negara dan Presiden agar keputusan yang dinilai cacat prosedur tidak disahkan.
"Tata kelola pengambilan keputusan tidak konstitusional. Jadi jangan ditandatangani," ujarnya.
Senada, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Hurriyah, menilai DPR tidak memandang proses seleksi Ombudsman sebagai isu yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik.
"Ketika bicara tentang isu seleksi Ombudsman di DPR, apalagi kemudian di situ ada isu perempuan, itu dianggap tidak punya ongkos politik yang besar," ujarnya.
Hurriyah menilai praktik tersebut menunjukkan hukum diperlakukan sebagai instrumen politik yang dapat diterapkan atau diabaikan sesuai kepentingan.
Kondisi itu, menurutnya, berpotensi membuat perempuan semakin enggan berpartisipasi dalam politik.
Ia juga menilai kepercayaan publik terhadap DPR terus tergerus ketika prosedur pengambilan keputusan dinilai lebih mengakomodasi kepentingan politik dibanding prinsip hukum.
"Ini mencerminkan hilangnya komitmen DPR terhadap prinsip rule of law," pungkasnya.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Mulai Turun di Sebagian Wilayah, Ini Doa saat Musim Hujan
-
Bayi Terapung yang Menjadi Wali: Menyelami Kisah Sunan Giri Lewat Saga dari Samudra
-
Abaikan Peringkat Pertama, DPR Dikritik Tak Transparan Pilih PAW Ombudsman RI
-
Yonyou Network Indonesia Bagikan Pengalaman Lokalisasi ERP di Ajang DTI Series 2026
-
Temui Presiden Prabowo di Istana, Kepala BRIN Pamer Sepatu Inovasi Lokal Harga Rp75 Ribu
-
5 Sepeda Lipat Murah untuk Bike to Work, Praktis dan Nyaman Dipakai ke Kantor
-
Berani Tampil Beda: Haruskah Penampilan Menentukan Kepercayaan Diri?
-
3 Body Lotion Pemutih yang Bagus dan Aman BPOM, Kulit Tampak Cerah Seketika
-
Balita Tewas Ditabrak Mobil Perwira Polisi di Bone
-
Kasus Bansos Beras, Kakak Hary Tanoe Dipanggil Penyidik KPK