News / Nasional
Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:24 WIB
Ilustrasi antara beras dan rokok. [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Peneliti UGM Hempri Suyatna menyatakan rokok menghambat penurunan kemiskinan karena dana bansos sering habis untuk produk konsumtif.
  • Hari Kamis 6 Agustus 2026, Hempri menjelaskan budaya dan lingkungan pergaulan membuat rokok dianggap sebagai kebutuhan wajib masyarakat.
  • Pemerintah perlu memberikan edukasi penggunaan bansos serta mengarahkan masyarakat rentan pada program bantuan ekonomi produktif.

Suara.com - Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hempri Suyatna, menyebut kebiasaan merokok masih menjadi salah satu faktor yang menghambat upaya menekan angka kemiskinan di Indonesia.

Pasalnya, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus membebani pengeluaran rumah tangga, rokok tetap dipertahankan sebagai kebutuhan yang dianggap wajib dipenuhi oleh sebagian masyarakat, termasuk kelompok miskin dan rentan miskin.

Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya dan gaya hidup yang telah mengakar.

"Rokok mungkin menjadi bagian dari gaya hidup. Sehingga kalau saya lihat masyarakat lebih memilih rokok sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi," kata Hempri kepada Suara.com, Kamis (6/8/2026).

"Bahkan mungkin rokok juga dianggap sebagai bagian ideologi karena dengan merokok bisa juga tetap membantu petani-petani tembakau," imbuhnya.

Menurut Hempri, pola penggunaan penghasilan maupun bantuan sosial untuk membeli rokok masih terus berulang. Akibatnya, efektivitas program perlindungan sosial menjadi tidak optimal.

Ia mengatakan kebiasaan tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Rokok tidak lagi sekadar menjadi barang konsumsi, tetapi telah menjadi simbol identitas dan eksistensi dalam pergaulan.

Ilustrasi rokok ilegal. (Freepik)

"Gaya hidup itu juga dipengaruhi faktor lingkungan pergaulan, merokok mungkin juga dianggap sebagai gaya hidup untuk menunjukkan identitas dan eksistensi diri," ucapnya.

Pemerintah, kata Hempri, tidak bisa hanya mengandalkan penyaluran bantuan sosial untuk mengurangi kemiskinan. Tanpa pendampingan dan edukasi yang berkelanjutan mengenai penggunaan bantuan, dana bansos berpotensi tetap habis untuk kebutuhan konsumtif, termasuk membeli rokok.

Baca Juga: Kemensos Kebut Penelusuran 1,49 Juta Penerima Bansos Terindikasi Judi Online

"Ya jika tanpa ada pendampingan dan kampanye terus menerus soal penggunaan dana bansos ini, maka bansos tidak akan efektif," ujarnya.

Kebijakan perlindungan sosial juga harus diarahkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan. Menurutnya, bansos memang diperlukan bagi kelompok miskin, sangat miskin, dan rentan miskin untuk mengurangi risiko ekonomi.

"Namun setelah mereka mampu mengatasi rentan miskin diarahkan ke program-program yang orientasi bantuan-bantuan ekonomi produktif," tandasnya.

Di sisi lain, Hempri menegaskan bahwa rokok bukan satu-satunya penyebab masyarakat sulit keluar dari kemiskinan. Ia menyebut kemiskinan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks karena dipengaruhi berbagai faktor kultural maupun struktural, mulai dari mentalitas hingga kebijakan pemerintah.

Load More