News / Internasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Dokumentasi petugas menata tumpukan uang dolar AS di Pusat Uang Tunai Bank. [ANTARA FOTO]
Baca 10 detik
  • Dolar AS menguat akibat kebuntuan negosiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

  • Spekulasi kenaikan suku bunga Fed bulan September makin kuat dipicu kenaikan harga minyak dunia.

  • Pasar keuangan global kini menanti rilis data resmi laporan tenaga kerja bulanan Amerika Serikat.

Terhadap mata uang poundsterling Inggris, dolar AS tercatat menguat tipis mencapai level 1,3449 dolar AS per poundsterling. Dominasi mata uang Paman Sam terlihat merata di berbagai lini perdagangan valuta asing.

Mata uang dolar Australia melorot perlahan mendekati posisi $0,7029 pada perdagangan yang sama. Pelemahan serupa dialami oleh dolar Selandia Baru yang tertekan hingga ke level 0,5866 dolar AS.

Eskalasi konflik kawasan Selat Hormuz menjadi latar belakang utama yang terus membayangi stabilitas ekonomi global saat ini. Pembatasan akses lalu lintas kapal tanker berpotensi mengganggu rantai pasok minyak mentah dunia secara signifikan.

Implikasi dari gangguan jalur pasokan energi tersebut mengancam memicu gelombang inflasi baru di berbagai negara maju. Hal inilah yang memaksa para bank sentral mempertimbangkan kembali kebijakan pengetatan suku bunga mereka.

Kombinasi antara risiko geopolitik global dan arah ketatnya kebijakan suku bunga AS menjadi modal kuat dolar bertahan kokoh. Investor diperkirakan masih akan terus memantau dinamika diplomasi Timur Tengah dan data ekonomi AS terkini.

Load More