- Pada 7 Agustus 2026, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.934 per dolar AS akibat sentimen negatif.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak yang didorong oleh memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
- Selain rupiah, beberapa mata uang Asia Tenggara lain juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada pagi ini.
Suara.com - Mata uang Garuda dibuka dengan mendapatkan sentimen negatif dari dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah tertekan pada pagi ini di pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Jumat 7 Agustus 2026 dibuka ke level Rp17.934 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 11 poin atau 0,06 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.923 dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan Rupiah melemah terhadap dolar AS seiring harga minyak yang rebound. Adapun memanasnya geopolitik di Timur Tengah memberikan tekanan pada rupiah.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring harga minyah yg rebound oleh memanasnya geopolitik di Timur Tengah meyusul laporan apabila Iran akan melarang kapal AS dan Israel melalui selat Hormuz," jelasnya.
Ia menambahkan, namun perlemahan diperkirakan terbatas. Sebab, investor menantikan data cadangan devisa Indonesia. Jika cadangan devisa meningkat bisa memberikan sentimen positif
"Investor menantikan data cadev Indonesia siang ini. Range Rp17.850 dan Rp17.950," tambah Lukman.
Pelemahan rupiah juga diikuti oleh beberapa mata uang Asia Tenggara lainnya. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam yakni 0,33 persen, ringgit Malaysia yang melemah 0,05 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,22 persen, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,29 persen, dolar Singapura menguat 0,07 persen, yen Jepang menguat 0,04 persen, baht Thailand menguat 0,04 persen, yuan China menguat 0,03 persen dan dolar Hong Kong yang menguat 0,003 persen terhadap dolar AS.