News / Nasional
Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:55 WIB
Logo Local Media Community.
Baca 10 detik
  • Local Media Community mengadakan diskusi keberlanjutan media lokal di Hotel Prime Park Pekanbaru pada 10 Agustus 2026.
  • Acara tersebut dihadiri oleh empat puluh enam pimpinan media dari empat provinsi guna membahas tantangan bisnis digital.
  • Para peserta sepakat melakukan kolaborasi lintas media dan transformasi konten demi menyelamatkan eksistensi pers lokal.

Suara.com - Kondisi ekosistem media lokal di tanah air saat ini di mana terdapat banyak tantangan, membuat puluhan pimpinan media lokal resah dan berusaha menemukan jalan keluar bersama. Salah satunya, mereka hadir dalam acara diskusi bertajuk "Keberlanjutan Media dan Ekosistem" yang digelar oleh Local Media Community (LMC) di Prime Park Hotel, Pekanbaru, pada Senin, 10 Agustus 2026.

Acara ini dihadiri oleh para pimpinan media lokal —baik selaku CEO, owner, Pemimpin Redaksi, maupun Wakil Pemimpin Redaksi— dari setidaknya empat provinsi di Sumatera (Riau, Kepri, Sumbar dan Jambi). Tercatat total sebanyak 46 peserta yang teregistrasi hadir dalam diskusi strategis ini, yang dimulai sejak pukul 13.00 dengan diawali makan siang bersama.

Ekosistem media yang dirasa tengah berada pada titik kritis, menjadi fokus utama diskusi hari itu. Tantangan yang dibicarakan antara lain adalah kondisi bisnis yang menurun akibat perubahan perilaku audiens, tantangan distribusi konten, disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga kompleksitas regulasi yang kian membebani.

Dalam sesi pemaparan lanskap bisnis media, Suwarjono selaku Pemimpin Redaksi Suara.com yang juga salah satu inisiator LMC, menyoroti bagaimana trafik media digital konvensional mengalami tekanan, sementara penggunaan media sosial dan platform berbasis video terus melonjak secara agresif.

“Kondisi ini menuntut newsroom bertransformasi dari sekadar mengandalkan homepage website, menuju pendekatan multi-platform yang berbasis komunitas, kepercayaan (trust), dan kedalaman konten lokal (local intelligence hub),” paparnya.

Sejumlah pimpinan media yang hadir menyambut baik ruang diskusi ini, bahkan turut buka-bukaan membedah realitas di lapangan. Ketergantungan finansial yang masih tinggi pada sumber-sumber tradisional, seperti iklan pemerintah, menjadi salah satu topik hangat yang mengemuka.

"Ini menarik, kalau memang masih banyak peluang revenue lain yang bisa didapatkan. Sebab kita media daerah selama ini memang masih banyak bergantung pada sumber pendapatan tradisional, salah satunya dari pemerintah daerah,” kata Ahmad, salah seorang peserta diskusi.

Kesadaran untuk beradaptasi dengan era digital juga menjadi sorotan utama para peserta. Transformasi konten ke ranah media sosial dinilai bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjangkau audiens yang kian dinamis.

"Era media sosial memang menuntut kita mau tak mau lebih banyak berinovasi dan eksplorasi untuk konten dan produknya. Memaksimalkan konten video pendek misalnya, kami sendiri sudah memulai juga, tapi belum begitu maksimal,” ujar Hermanto, pimpinan media berbasis di Pekanbaru.

Membangun Kolaborasi, Menyelamatkan Eksistensi Media

Selain membahas strategi diversifikasi pendapatan di luar iklan konvensional (beyond advertising dan beyond media), diskusi interaktif melalui sesi breakout dan rekomendasi langkah lanjutan (next steps) ini pun menekankan pentingnya solidaritas antar-pengelola media.

Salah satunya adalah bahwa dalam menghadapi ketatnya ekosistem digital dan lanskap bisnis yang kian kompetitif, kolaborasi lintas media daerah dinilai justru bisa menjadi kunci utama agar industri pers lokal tetap tangguh dan berdaulat.

"Tampaknya kita memang harus merapatkan barisan, terus-menerus berkoordinasi, dan jika bisa sering berkolaborasi, demi menyelamatkan eksistensi kita sebagai media," ucap Satria, salah satu peserta yang bersepakat dengan poin itu.

Pada intinya, melalui kegiatan diskusi intensif ini, LMC bersama para pimpinan media lokal berharap bahwa langkah konsolidasi, penguatan standar etika, serta optimalisasi aset digital dapat menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan media daerah di masa depan. Diskusi di Pekanbaru sendiri bukan satu-satunya, karena selang dua hari yaitu pada Rabu 12 Agustus, diskusi serupa juga digelar di Makassar dan wilayah sekitarnya, serta keesokan harinya di Surabaya untuk perwakilan media dari Jawa Timur dan sekitarnya.

Load More