News / Nasional
Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:13 WIB
Ilustrasi Pemetaan Hutan menggunakan Tessera (dok. Universitas Cambridge/James Ball)

Suara.com - Untuk memetakan spesies pohon dari citra satelit selama ini bukan pekerjaan mudah. Kondisi medan yang curam, tutupan awan tebal, hingga kebutuhan komputasi yang besar membuat pemetaan hutan dengan skala luas masih menjadi tantangan.

Namun, saat ini peneliti dari Universitas Cambridge tengah mengembangkan pendekatan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu memetakan spesies pohon menjadi lebih akurat dengan mengandalkan komputer. Temuan ini berpotensi dalam meringankan pengeluaran biaya operasional dan memperluas pemantauan hutan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science of Remote Sensing itu memanfaatkan Tessera,sebuah model dasar geospasial untuk mengolah data satelit. Melalui teknologi tersebut, para peneliti berhasil memetakan persebaran 18 spesies pohon dan kelompok spesies di wilayah Trentino, Pegunungan Alpen, Italia.

Seorang peneliti pascadoktoral di Institut Penelitian Konservasi Cambridge sekaligus penulis utama studi ini, James Ball, menjelaskan bahwa pendekatan ini bisa membuka peluang untuk menghasilkan peta hutan berskala benua dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan metode konvensional.

"Tessera menjadi kekuatan yang mendemokratisasi penggunaan data satelit," kata James.

Menurutnya, dengan hadirnya teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai wilayah yang tidak memiliki akses terhadap prasarana komputasi canggih.

"Tim yang tidak memiliki sumber daya komputasi besar tetap dapat menerapkannya untuk inventarisasi dan pemetaan hutan tanpa membutuhkan biaya maupun upaya yang besar," tambahnya.

Selama ini pemetaan spesies pohon dari luar angkasa menjadi tantangan terbesar. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik yang dimiliki setiap pohon sehingga sulit dibedakan hanya dari satu citra satelit.

Salah satu wilayah yang menghadapi tantangan ini adalah pegunungan seperti di Trentino. Wilayah tersebut memiliki lereng yang curam dan sering tertutup awan. Parahnya adalah penggunaan satelit dengan sensor hiperspektral tidak selalu berhasil mengidentifikasi spesies dengan akurat.

Baca Juga: El Nino Diprediksi Menguat, Bagaimana BMKG Antisipasi Kekeringan dan Karhutla?

Keunggulan dari Tessera adalah teknologi ini mampu menganalisis kumpulan citra satelit selama satu tahun penuh. Model ini akan menangkap perubahan musiman pada tajuk pohon, meliputi masa berbunga, menghasilkan biji, menggugurkan daun, hingga menumbuhkan kembali daun.

Perubahan pola tersebut ditangkap dan diolah menjadi representasi data yang dapat dimanfaatkan AI untuk membedakan spesies pohon.

Hasilnya memperlihatkan pendekatan ini berhasil mencapai tingkat keakuratan sekitar 82 persen. Angka tersebut melampau metode pemetaan hutan tradisional yang memiliki akurasi sekitar 73 hingga 79 persen.

Dalam penelitian yang sama, kemampuan Tessera juga dibandingkan dengan model dasar geospasial lain, yaitu AlphaEarth milik Google. Namun, Tessera dinilai lebih unggul dalam mengidentifikasi spesies pohon langka sekaligus memprediksi proporsi spesies pada setiap unit peta dengan lebih akurat.

Salah satu penulis penelitian sekaligus ahli ekologi hutan dari Fondazione Edmund Much Italia, Michele Dalponte, menjabarkan bahwa pemetaan tersebut mempunyai nilai penting bagi pengelolaan hutan di Trentino.

Sekitar tiga perempat kawasan hutan di wilayah itu merupakan milik publik dan dikelola secara aktif, sedangkan seperempat lainnya milik pribadi sehingga datanya sangat minim dianalisis.

Load More