Menhut Raja Juli: Indonesia Masuk Fase El Nino Godzilla, Mirip 2015

Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:04 WIB
Menhut Raja Juli Antoni saat konferensi pers di Kantor BPDLH Kemenkeu, Jakarta, Rabu (12/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan potensi ancaman El Nino Godzilla di Indonesia pada Rabu, 12 Agustus 2026.
  • Fenomena iklim ekstrem tersebut berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan hebat yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.
  • Pemerintah menyiagakan puluhan helikopter dan pesawat modifikasi cuaca serta mengajak masyarakat mencegah munculnya titik api.

Suara.com - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan potensi ancaman El Nino sangat kuat atau yang dikenal sebagai El Nino Godzilla. Ia menilai kalau fenomena ini mirip seperti apa yang terjadi di Indonesia tahun 2015 lalu. 

"Kita memasuki fase yang sangat sulit sekali yang disebut sebagai El Nino sangat kuat, atau bahasa populernya sering disebut sebagai El Nino Godzilla, yang mungkin ini sama dengan tahun 2015," katanya saat konferensi pers di Kantor Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Kementerian Keuangan (BPDLH Kemenkeu) di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Mengutip analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Raja Juli mengatakan fenomena iklim ekstrem ini berpotensi memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hebat yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi, rantai pasok, dan aktivitas bisnis nasional.

Ia mengingatkan agar Indonesia tidak mengulang krisis Karhutla 2015 yang membakar 2,6 juta hektar lahan. Kala itu, dampak ekonomi sangat terasa akibat penutupan bandara, terhentinya pusat perbelanjaan, hingga kelumpuhan aktivitas bisnis dan pendidikan di berbagai daerah.

"Apa gunanya kita banyak beretorika, tapi tidak bisa mempertahankan hutan dari Karhutla. Dampaknya tidak hanya memburuk citra kita, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi masyarakat seperti tahun 2015 lalu," tambahnya.

Ilustrasi El Nino yang semakin panas (dok.Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Demi mengantisipasi kerugian bisnis dan kerugian sosial yang lebih luas, Pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) memobilisasi sarana pemadaman darat dan udara. 

Ia menyatakan, sebanyak 42 helikopter pemadam (water bombing) dan 5 pesawat fixed-wing untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah disiagakan di wilayah rawan.

Meski demikian, Menhut menekankan adanya tantangan operasional di lapangan. Minimnya awan hujan akibat cuaca ekstrem membuat fungsi rekayasa cuaca tidak dapat berjalan maksimal.

Oleh karena itu, pemerintah menekankan pentingnya kepatuhan serta kerja sama dari para pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk tidak memicu titik api (hotspot), baik akibat pembukaan lahan maupun kelalaian kecil seperti pembuangan puntung rokok dan api unggun.

"Kita akan antisipasi karhutla ini secara maksimum, semaksimal mungkin kita lakukan. Tapi tentu partisipasi masyarakat untuk menjaga agar jangan bermain api, itu bisa kita lakukan secara bersama-sama," jelas Raja Juli Antoni.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com