News / Internasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:58 WIB
Rudal Iran (Tasnim)
Baca 10 detik
  • Negosiasi Selat Hormuz macet total akibat Amerika Serikat dan Iran saling menuntut ganti rugi perang.
  • Iran mengajukan enam syarat mutlak termasuk pencabutan sanksi ekonomi sebelum membuka kembali Selat Hormuz.
  • Kebuntuan diplomasi AS dan Iran langsung memicu kenaikan harga minyak dunia di atas 5 persen.

Suara.com - Negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz menghadapi jalan buntu setelah Amerika Serikat dan Iran saling melempar tuntutan baru yang kian memperkeruh iklim diplomasi. Tuntutan ganti rugi perang dari kedua belah pihak langsung memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengancam stabilitas pasokan energi global.

Penutupan jalur vital pasokan seperlima minyak dunia ini berpotensi memicu inflasi global yang jauh lebih ekstrem jika kedua negara tidak segera melunakkan posisi tawar mereka. Kebuntuan tersebut juga diprediksi bakal memperlama konflik bersenjata antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung selama lima bulan.

Diplomasi langsung antara kedua negara sebenarnya tidak pernah terjadi karena Teheran hanya mau berunding melalui perantara pihak ketiga yaitu Kesultanan Oman. Pendekatan unilateral ini menegaskan keretakan hubungan diplomatik yang sangat mendalam dan membatasi opsi penyelesaian krisis secara cepat.

Iran menolak membuka Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat mencabut blokade dan menghentikan perang. (Mehrnews)

Mengapa Tuntutan Baru Trump Memperkeruh Situasi?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Teheran harus membayar ganti rugi atas kerusakan serta korban jiwa dari berbagai aksi militer selama lima dekade terakhir.

"Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang telah mereka lakukan selama periode 50 tahun," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. "Jadi jika ada kerugian yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerugian tersebut."

Melalui platform Truth Social, Trump bahkan menuntut ganti rugi untuk keluarga 17 pelaut AS yang gugur dalam serangan kapal USS Cole tahun 2000 di Yaman, meski insiden itu sebenarnya dituduhkan kepada al-Qaeda.

"Juga, sehubungan dengan negosiasi Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulis Trump.

Tuntutan keras dari Gedung Putih ini muncul tepat setelah Iran terlebih dahulu meminta AS membayar ganti rugi atas kerusakan akibat serangan militer Washington dan Israel.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Di Ujung Tanduk, Mampukah Tembus Resistance 6.300?

Namun, retorika tajam Trump berbanding terbalik dengan optimisme Wakil Presiden AS JD Vance yang meyakini kesepakatan damai masih sangat mungkin tercapai.

"tidak ada rencana" kata Vance saat menjelaskan bahwa pihak Iran telah menyampaikan tidak berniat memungut tarif penyeberangan di Selat Hormuz.

Meskipun ada nada optimis dari Vance, harga minyak mentah tetap melonjak lebih dari 5 persen seiring memudarnya harapan publik terhadap perdamaian.

Apa Saja Syarat Mutlak Yang Diajukan Iran?

Iran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz sebelum seluruh syarat politik dan ekonominya dipenuhi oleh pemerintah AS.

Lembaga Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis enam kondisi mutlak, yakni penghentian ancaman AS, penghentian serangan terhadap sekutu Iran, pengangkatan blokade laut, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.

Load More