News / Internasional
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:13 WIB
Selat Hormuz (FOX)
Baca 10 detik
  • Donald Trump berencana menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah Iran kalah perang.

  • Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan komoditas di seluruh dunia.

  • Iran menolak membuka pelayaran sebelum Amerika Serikat mencabut blokade pelabuhan mereka.

Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan niatnya mencaplok Selat Hormuz menjadi wilayah kedaulatan Amerika Serikat begitu pertempuran melawan Iran usai. Langkah nekat ini menjadi sinyal eskalasi baru dari Washington untuk mengamankan kontrol mutlak atas titik nadi perdagangan minyak dunia.

Pernyataan berani ini menandai pergeseran strategi AS yang tidak lagi sekadar menekan rezim Tehran, melainkan secara terbuka berniat menguasai jalur maritim internasional. Penguasaan fisik atas selat tersebut berpotensi mengubah peta geopolitik maritim secara permanen.

"Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang saat ini sedang dikalahkan dengan sangat parah, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump dalam pidatonya di sebuah akademi kepolisian di negara bagian New York, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (15/8/2026).

Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)

Sejauh ini, armada angkatan laut Amerika Serikat mengeklaim masih memegang kendali penuh melalui blokade ketat di sekitar pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Trump menggambarkan keunggulan militernya di kawasan tersebut sebagai benteng pertahanan yang tak bisa ditembus musuh.

Dia pun menggambarkan blokade tersebut sebagai sesuatu yang "tidak terbendung" dan "tembok baja.

Masyarakat Amerika Serikat kini harus menanggung lonjakan harga bahan bakar minyak akibat blokade dan konflik bersenjata yang berkepanjangan ini. Trump meminta publik memaklumi tekanan ekonomi domestik tersebut demi menutup akses senjata nuklir Tehran.

"Kalian hanya perlu mengingat bahwa apa yang kami lakukan ini merupakan jasa besar bagi dunia," ujarnya.

Mengapa Selat Hormuz Menjadi Rebutan Utama Kedua Negara?

Konflik bersenjata yang melibatkan aliansi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung sejak akhir Februari lalu tanpa kepastian kapan akan usai. Penutupan koridor perairan sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini langsung memicu krisis pasokan energi di tingkat global.

Baca Juga: Pengamat: Amerika Serikat Kehabisan Cara Menekan Iran

Pemerintah Iran bertindak tegas dengan menolak bernegosiasi atau membuka akses pelayaran sebelum AS menghentikan total blokade pelabuhan mereka. Tehran menekankan bahwa kedaulatan atas Selat Hormuz berada penuh di tangan mereka dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak asing.

Iran juga menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan pengelolaannya, sementara Trump menghadapi tekanan semakin besar di internal negaranya untuk mengakhiri perang yang tidak disukai itu.

Sikap keras kedua belah pihak memperpanjang ketidakpastian ekonomi global serta menaikkan harga berbagai komoditas pokok di banyak negara. Trump sendiri kini berada di bawah bayang-bayang protes publik domestik yang mulai jenuh dengan biaya perang yang melambung tinggi.

Pertikaian terbuka antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam sejak rentetan bentrokan militer meletus pada akhir Februari. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perang ini karena dilewati oleh hampir sepertiga pasokan minyak mentah jalur laut dunia, sehingga blokade laut di area ini langsung berdampak fatal pada kestabilan harga energi global.

Load More