-
Sebanyak 5.335 perusahaan di Jepang bangkrut sepanjang semester pertama tahun 2026.
-
Sektor jasa, ritel, dan konstruksi menjadi penyumbang kasus kebangkrutan terbanyak akibat inflasi.
-
Kenaikan suku bunga diperkirakan memperparah gelombang kebangkrutan pada semester kedua 2026.
Suara.com - Sebanyak 5.335 perusahaan di Jepang terpaksa gulung tikar atau bangkrut akibat beban inflasi serta lonjakan biaya bahan baku sepanjang semester pertama 2026. Angka kerugian bisnis dengan utang minimal 10 juta yen ini mencatatkan rekor kebangkrutan tertinggi dalam kurun 14 tahun terakhir.
Fenomena penutupan usaha secara masif ini menandai krisis ekonomi domestik yang jauh lebih dalam dibanding periode sebelumnya. Sektor jasa, ritel, hingga konstruksi menjadi kelompok industri yang paling parah menghantam badai krisis operasional tersebut.
Ketidakmampuan pelaku usaha membebankan kenaikan harga bahan bakar kepada konsumen menjadi pemicu utama ambruknya arus kas perusahaan. Banyak entitas bisnis tidak lagi sanggup bertahan di tengah lonjakan beban modal yang terus membengkak.
Laporan resmi Teikoku Databank mencatat peningkatan signifikan jumlah perusahaan yang ambruk pada periode Januari hingga Juni tahun ini. Lembaga riset kredit tersebut menyatakan 5.335 bisnis gulung tikar pada periode Januari hingga Juni. Itu naik 332 dari tahun lalu dan merupakan yang tertinggi sejak 2012.
Sektor pelayanan publik atau jasa menyumbang angka kegagalan bisnis terbesar, diikuti ketat oleh bidang perdagangan eceran dan industri bangunan. Ketiga bidang usaha tersebut paling rentan terhadap gejolak pasokan barang serta fluktuasi harga energi global.
Mengapa Kebangkrutan Bisnis Jepang Diperkirakan Berlanjut?
Kondisi finansial dunia usaha diprediksi kian mengkhawatirkan memasuki separuh kedua tahun berjalan. Pembengkakan beban pinjaman akibat kenaikan suku bunga perbankan siap mengintai para pemilik modal.
Para pengamat ekonomi mengkhawatirkan bahwa pengetatan kebijakan moneter justru akan memicu gelombang penutupan usaha yang lebih besar. Perusahaan yang mengandalkan utang luar rentan mengalami gagal bayar dalam kurun waktu dekat.
Analis riset memperkirakan tren negatif ini belum akan mereda hingga penyesuaian pasar tercapai. Dikutip dari NHK, Teikoku Databank menegaskan tren kebangkrutan dapat berlanjut pada paruh kedua ketika bisnis akan menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi akibat kenaikan suku bunga."
Baca Juga: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Kisah Kelam Perempuan Indonesia di Era Pendudukan Jepang
Peningkatan jumlah perusahaan ambruk ini melanjutkan tren memprihatinkan yang sudah terjadi sejak awal tahun lalu. Kondisi ekonomi mikro Jepang kini berada di titik nadir akibat keterbatasan daya serap pasar domestik.
Latar belakang krisis ini bermula dari akumulasi beban biaya impor bahan baku dan energi yang membengkak dalam dua tahun terakhir. Situasi makin diperparah oleh kebijakan penyesuaian suku bunga yang memangkas margin keuntungan pelaku usaha secara signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Jepang Dihantam Gelombang Perusahaan Bangkrut, Paling Banyak Dalam 14 Tahun Terakhir
-
Bahlil Ungkap Alasan Presiden Bentuk Bursa Mineral: Prabowo Mau Seluruh Kekayaan Kita Yang Atur!
-
Pemerintah Siapkan Insentif Percepat Pengembangan Panas Bumi
-
5 Tips Menempatkan Posisi Meja Kasir Pembawa Hoki Menurut Feng Shui, Omzet Makin Deras
-
Brantas Abipraya Jalin Sinergi dengan Kejaksaan Agung RI untuk Kokohkan Tata Kelola
-
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen
-
Rupiah Menguat ke Rp17.840, Sikap Hawkish BI Jadi Penopang Mata Uang Garuda
-
Ngecas Mobil Listrik Pakai Listrik Rumah 2.200 VA, Bisa? Ini Rincian Biaya Tambah Daya Home Charger
-
Berkat Digitalisasi, Verifikasi Penerima Bansos Kini Cukup 5 Menit dari Sebelumnya 200 Hari
-
Mabuk Berat Intisari! Joshua Ngaku Lupa ke Polisi Ditanya Alasan Ngamuk dan Telanjang