- Warga sipil dari empat kampung di Distrik Agisiga mengungsi akibat pendoropan pasukan militer Indonesia pada 17 Agustus 2026.
- Aparat militer Indonesia juga memaksa warga sipil di Ugimba untuk mengikuti upacara bendera pada hari kemerdekaan tersebut.
- KOMNAS TPNPB meminta PBB dan Palang Merah Internasional menyelidiki situasi serta mendesak akses bagi wartawan asing.
Suara.com - Warga sipil dari Kampung Danggoa, Tausiga, Soali dan Mbamogo yang berada di wilayah Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya disebut kembali mengungsi ke kampung tetangga di Jenabu dan sekitaran hutan-hutan di Distrik Agisiga.
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengaku telah menerima laporan dari PIS TPNPB dari Kota Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada Senin, 17 Agustus 2026 pagi.
"Pengungsian tersebut terjadi sejak pagi hari akibat pendoropan pasukan militer Indonesia ke Distrik Agisiga dan Ugimba melalui jalur darat dan Udara," ujar Jubir TPNPB OPM, Sebby Sambom, dalam keteranganya dikutip Kamis (20/8/2026).
PIS TPNPB juga melaporkan bahwa pendoropan aparat militer Indonesia ke kampung-kampung di Distrik Agisiga dan Ugimba, lalu menduduki pemukiman warga sipil membuat mereka trauma.
"Mengakibatkan ketakutan dan trauma bagi warga sipil di wilayah tersebut sehingga mereka terpaksa mengungsi," kata dia.
Sementara di Ugimba kata dia, aparat militer Indonesia memaksa warga sipil untuk mengikuti upacara bendera indonesia pada 17 Agustus 2026 kemarin.
Dalam hal tersebut, manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta kepada Palang Merah Internasional bersama tim investigasi dari Dewan HAM PBB serta Dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi dan memberikan bantuan kemanusiaan bagi 125.931 warga sipil yang mengungsi dan tersebar di berbagai daerah di Tanah Papua dalam laporan yang dikeluarkan oleh Human Rights Monitor.
Selain itu manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga meminta kepada pemerintah Indonesia untuk membuka akses yang seluas-luasnya bagi wartawan asing untuk memasuki Tanah Papua agar melakukan peliputan berita secara transparan dan independen sehingga publik dan dunia internasional tahu apa yang terjadi sebenarnya di Tanah Papua.
Baca Juga: Patung Yesus 25 Meter Segera Berdiri di Perbatasan Papua
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
BRI Raih Rekor MURI Melalui Kolaborasi Kredit Kendaraan di 131 Lokasi Tanah Air
-
Kenapa Nasi di Rice Cooker Cepat Basi dan Bau? Ternyata Bukan Cuma karena Beras
-
BRI Cetak Rekor MURI: Hadirkan Kredit Kendaraan Serentak di 131 Lokasi
-
Begini Cara Warga Israel Masuk Indonesia hingga Bisa Pelesir ke Bali hingga Toraja
-
Penangkapan Berujung Duka di Lamtim: Benarkah Nenek Sakdiyah Wafat Karena Syok Saat Digerebek?
-
Ketakutan Diserbu TNI, Warga 4 Kampung di Intan Jaya Terpaksa Mengungsi ke Hutan
-
BRI Raih Rekor MURI: Selenggarakan Pameran Kredit Kendaraan Serentak Terbanyak
-
Jatim Raih 2 Penghargaan JDIH Nasional dengan Predikat AA dan Nilai 100
-
Powerful Tapi Emosional, Intip Highlight Medley Album Baru NCT 127 'BLINGY'
-
100 Orang Tewas Tertimbun Tambang Emas Tradisional Runtuh, Puluhan Orang Hilang di Desa Zamboye