- Distribusi bantuan logistik pangan pemerintah untuk korban gempa di Flores, NTT, dinilai belum merata hingga Sabtu (22/8/2026).
- Warga Desa Ruang, Manggarai, hanya menerima bantuan minim berupa satu gelas beras, satu butir telur, dan satu mi instan per keluarga.
- Korban gempa di Kabupaten Manggarai terpaksa tidur di luar rumah tanpa kasur serta terpal layak akibat belum tersentuh penanganan darurat.
Suara.com - Genap seminggu berlalu sejak gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 meluluhlantakkan wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), distribusi bantuan logistik dari pemerintah terbukti belum merata.
Sejumlah korban terdampak di kawasan pelosok hingga kini masih terlantar dan belum tersentuh penanganan darurat secara memadai.
Kondisi kritis ini salah satunya dialami oleh warga terdampak di Desa Ruang RT 003 RW 002 Kampung Bola, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai.
Tujuh hari pascabencana, kehidupan warga di kawasan ini masih lumpuh akibat rentetan gempa susulan serta sapuan kerusakan rumah yang parah.
Selvi, seorang warga Desa Ruang, membeberkan realita pahit betapa timpangnya pembagian logistik di wilayahnya selama sepekan terakhir.
Bantuan yang diterima warga amat sangat minim, bahkan jauh dari kata layak untuk menyambung hidup pascabencana.
"Tidak, tidak ada (bantuan dari pemerintah). Beras satu gelas, terus ada telur satu, sudah itu, mi (instan) lagi satu mi (untuk). Itu bantuannya. Tidak ada bantuan yang lain," kata Selvi saat dihubungi Suara.com, Sabtu (22/8/2026).
Penyaluran logistik pangan dari pemerintah di minggu pertama bencana ini juga dinilai sangat tidak masuk akal.
Minimnya komoditas pangan yang dibagikan membuat warga kebingungan membaginya di tengah situasi darurat.
Baca Juga: Sigap Blusukan Demi Cari Suara, Lambat Hadir untuk Korban Bencana
Di kampungnya saja setidaknya ada 26 kepala keluarga (KK) yang terdampak dengan setidaknya 12 rumah warga yang rusak parah. Sedangkan bantuan yang diterima per KK sejauh ini masih sangat minim.
"Satu telur. Satu mi, satu bungkus mi (untuk) tiga orang (satu KK). Bagaimana cara baginya pak? Lebih baik kasih anak-anak sudah itu," kata dia.
Diungkapkan Selvi, tanpa penanganan darurat yang merata dari pemerintah selama sepekan, para warga terpaksa tidur menggeletak di luar rumah.
Keadaan kian menyiksa karena fasilitas tenda pengungsian dasar seperti kasur dan terpal utuh belum juga didistribusikan.
"Ini tidur di luar. Kami ini, tidak ada ini, tidak ada terpal toh. Kasur untuk tidur lagi begitu, tidak ada. Nah, itu makanya kami tidur di luar. Pakai tenda, tapi tidak ada kasur. Tidak ada kasurnya, terpalnya juga, robek-robek semua," ungkapnya.
Memasuki hari ketujuh pascagempa, gerak cepat pemerintah pusat maupun daerah dipertanyakan warga setempat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Seminggu Gempa NTT: Warga Pelosok Hanya Terima Segelas Beras, Sebutir Telur, dan Mi Instan
-
Tak Perlu Bolak-balik Atur Volume, Huawei FreeClip 2 S Andalkan AI
-
Pasien Depresi di Gresik Dirudapaksa di Gubuk Sawah Berkedok Pengobatan Alternatif
-
Stok Bantuan Gempa NTT Masih 577 Ton, BNPB Siapkan Tambahan Distribusi Udara
-
Pakar UMY Ingatkan Risiko Salah Sasaran Bansos Jika Desil DTSEN Jadi Patokan Mutlak
-
Bukan Menolak Warga Pati, YLBHI Buka Suara soal Tak Izinkan Bermalam di Diponegoro 74
-
Kabut Asap Kepung Kubu Raya, Presiden Pranowo Tinjau Karhutla di Tengah Udara 'Sangat Tidak Sehat'
-
Persija Resmi Rekrut Alexander Jeremejeff, Shin Tae-yong Bisa Senyum Lebar
-
673 Hektare Lahan Way Kambas Hangus, Petugas Padamkan Api Hanya Berbekal Gepyok Kayu
-
Tidak Menyerah dengan Keadaan, Kisah Anak Penjual Bubur Raih Predikat Wisudawan Terbaik