News / Internasional
Senin, 24 Agustus 2026 | 12:23 WIB
Seorang remaja 14 tahun melakukan aksi penembakan terhadap kakek dan neneknya sendiri lalu melakukan penyerangan ke sekolah. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Puluhan serangan pembakaran terkoordinasi melanda tiga provinsi di Thailand selatan pada Sabtu malam.

  • Dua warga terluka dan pemerintah memberlakukan jam malam darurat di wilayah Provinsi Narathiwat.

  • Eskalasi kekerasan meningkat menjelang agenda kunjungan Perdana Menteri Thailand ke wilayah selatan pekan depan.

Suara.com - Gelombang teror serentak mengguncang wilayah selatan Thailand pada Sabtu malam hingga memaksa pemerintah memberlakukan jam malam darurat di Provinsi Narathiwat. Aksi koordinasi massal ini merusak puluhan fasilitas umum, pertokoan, serta infrastruktur penting di tengah memanasnya kembali konflik separatisme lokal.

Sebanyak 51 titik serangan melanda wilayah perbatasan selatan dari pukul delapan malam hingga tengah malam. Narathiwat menjadi daerah terdampak paling parah dengan dua korban luka, sementara ledakan dan pembakaran juga meluas ke Provinsi Yala serta Pattani.

Eskalasi kali ini memperlihatkan pergeseran taktik kelompok bersenjata yang secara spesifik menargetkan pusat ekonomi masyarakat dan aset pemerintah. Bangunan kantor pemerintah daerah, gerai minimarket 7-Eleven, hingga tiang listrik dan menara telekomunikasi hancur dilahap si jago merah.

Seorang remaja 14 tahun melakukan aksi penembakan terhadap kakek dan neneknya sendiri lalu melakukan penyerangan ke sekolah. [Istimewa]

"Beberapa insiden terkoordinasi yang bertujuan menciptakan keresahan terjadi di berbagai lokasi di seluruh provinsi perbatasan selatan," ungkap Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri (ISOC) dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNA, Senin (24/8/2026).

Guna mengantisipasi serangan susulan, komando militer Narathiwat langsung menerapkan pembatasan aktivitas warga secara ketat sejak Sabtu malam hingga Minggu pukul enam pagi.

Tim gabungan langsung menerjunkan personel untuk mendata kerusakan dan menyisir sisa-sisa bahan peledak di lokasi kejadian. Pihak berwenang memastikan situasi telah terkendali tanpa ada laporan aksi lanjutan pada Minggu pagi.

Gubernur Narathiwat Boonchuay Homyamyen mengonfirmasi bahwa penyelidikan intensif sedang berlangsung di seluruh titik pembakaran. "Pihak berwenang sedang menyelidiki lokasi serangan pada hari Minggu, termasuk kantor pemerintah daerah serta menara telekomunikasi dan tiang listrik," tutur Boonchuay.

Dalam salah satu aksi pembakaran di kantor organisasi administrasi subdistrik Narathiwat, para pelaku juga melarikan satu unit kendaraan operasional. Mobil kabin ganda tersebut kemudian ditemukan warga dalam kondisi hangus terbakar di tengah jalan.

Hingga saat ini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas puluhan aksi pembakaran terkoordinasi tersebut. Kendati demikian, pola serangan identik dengan aksi gerilya yang kerap menyasar pejabat serta fasilitas negara.

Baca Juga: Gagal ke Final Piala AFF 2026, Singapura Tetap Bangga Bisa Pulangkan Timnas Indonesia

Aksi kekerasan mendadak ini juga terjadi tepat menjelang rencana agenda penting jajaran eksekutif tingkat pusat di wilayah selatan.

Rangkaian serangan sengaja dilancarkan menjelang agenda kunjungan kerja Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan para menteri kabinetnya ke Hat Yai, Provinsi Songkhla, pekan depan. Pertemuan tingkat tinggi tersebut rencananya bakal membahas proyek investasi, mitigasi banjir, hingga penanganan stabilitas keamanan kawasan.

Peningkatan tensi keamanan di wilayah perbatasan selatan Thailand ini sebenarnya telah menunjukkan gejala memburuk sejak bulan lalu. Insiden berdarah sebelumnya merenggut nyawa lima prajurit militer akibat pos pemeriksaan mereka diberondong peluru dan bom di Narathiwat.

Kawasan selatan yang mayoritas berpenduduk Muslim memang terus diguncang konflik berskala rendah sejak tahun 2004 silam. Kelompok pemberontak lokal terus berjuang menuntut otonomi daerah yang lebih luas dari pemerintah pusat Thailand yang berpenduduk mayoritas Buddha.

Sengketa berkepanjangan selama lebih dari dua dekade ini telah merenggut lebih dari 7.000 jiwa, menjadikan kawasan perbatasan selatan Thailand sebagai salah satu titik konflik paling rawan di Asia Tenggara.

Load More