News / Internasional
Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:28 WIB
Presiden China Xi Jinping (Instagram)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat merilis Operation Economic Outcast untuk memutus jalur pendapatan lima sektor vital Iran.

  • Negara mitra perdagangan Iran termasuk China terancam sanksi sekunder dan pemblokiran akses dolar AS.

  • Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi langsung pada 60 individu, entitas, dan kapal internasional.

Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat resmi meluncurkan operasi sanksi ekonomi Iran serta mengancam bakal menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara mitra seperti China. Langkah tegas ini diambil untuk mengisolasi lima sektor vital yang selama ini menjadi penopang utama keuangan negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa pihak asing harus segera memilih antara menjaga kemitraan dagang dengan Washington atau menanggung risiko isolasi global. Kebijakan anyar bertajuk "Operation Economic Outcast" ini membidik lini emas, penerbangan, pelayaran, teknologi, hingga aset digital.

Peringatan keras ini berpotensi merombak peta perdagangan internasional karena target sasaran melingkupi negara mana pun tanpa terkecuali. Gedung Putih bahkan memberikan tenggat waktu terbatas sebelum tindakan hukum dan pembekuan finansial sepihak diberlakukan.

Kehancuran kota Teheran Iran (Tasnimnews)

"Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu," kata Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C., AS, dikutip Selasa (25/8/2026).

Instansi yang kedapatan membantu praktik pencucian uang bagi Teheran dipastikan langsung kehilangan akses ke dalam sistem keuangan berbasis dolar AS. Pemerintah AS bergeming dan tetap membuka peluang penindakan langsung secara penuh menggunakan kewenangan Departemen Keuangan.

"Setiap negara memiliki batas waktu yang telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang telah kami identifikasi. Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS," kata Bessent.

Meskipun ancaman hukum telah diumumkan secara terbuka, pemerintah Trump sejauh ini belum mengurai rincian mekanisme operasional penindakan terbarunya. Detail teknis yang membedakan pengetatan kali ini dengan serangkaian embargo masa lalu juga belum dipaparkan secara mendalam.

"Kami tidak akan menyebut nama-nama tertentu," kata Bessent.

Selain menggertak mitra luar negeri, Washington mengesahkan tindakan hukum baru terhadap 60 entitas, individu, dan armada kapal internasional. Kelompok tersebut dituduh mendanai aktivitas siber, pendapatan minyak, hingga pengadaan teknologi nuklir dan rudal ilegal bagi rezim Iran.

Baca Juga: Sanksi AS ke Iran Meluas, Harga Minyak Justru Menahan Napas

Langkah represif finansial ini mengemuka di tengah manuver Presiden Donald Trump yang sedang berupaya menyepakati perjanjian baru guna mengakhiri ketegangan enam bulan terakhir. Momentum peringatan ini juga terbilang krusial karena diluncurkan tepat satu bulan sebelum rencana kunjungan resmi Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih.

Load More