-
Amerika Serikat merilis Operation Economic Outcast untuk memutus jalur pendapatan lima sektor vital Iran.
-
Negara mitra perdagangan Iran termasuk China terancam sanksi sekunder dan pemblokiran akses dolar AS.
-
Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi langsung pada 60 individu, entitas, dan kapal internasional.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat resmi meluncurkan operasi sanksi ekonomi Iran serta mengancam bakal menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara mitra seperti China. Langkah tegas ini diambil untuk mengisolasi lima sektor vital yang selama ini menjadi penopang utama keuangan negara tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa pihak asing harus segera memilih antara menjaga kemitraan dagang dengan Washington atau menanggung risiko isolasi global. Kebijakan anyar bertajuk "Operation Economic Outcast" ini membidik lini emas, penerbangan, pelayaran, teknologi, hingga aset digital.
Peringatan keras ini berpotensi merombak peta perdagangan internasional karena target sasaran melingkupi negara mana pun tanpa terkecuali. Gedung Putih bahkan memberikan tenggat waktu terbatas sebelum tindakan hukum dan pembekuan finansial sepihak diberlakukan.
"Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu," kata Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C., AS, dikutip Selasa (25/8/2026).
Instansi yang kedapatan membantu praktik pencucian uang bagi Teheran dipastikan langsung kehilangan akses ke dalam sistem keuangan berbasis dolar AS. Pemerintah AS bergeming dan tetap membuka peluang penindakan langsung secara penuh menggunakan kewenangan Departemen Keuangan.
"Setiap negara memiliki batas waktu yang telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang telah kami identifikasi. Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS," kata Bessent.
Meskipun ancaman hukum telah diumumkan secara terbuka, pemerintah Trump sejauh ini belum mengurai rincian mekanisme operasional penindakan terbarunya. Detail teknis yang membedakan pengetatan kali ini dengan serangkaian embargo masa lalu juga belum dipaparkan secara mendalam.
"Kami tidak akan menyebut nama-nama tertentu," kata Bessent.
Selain menggertak mitra luar negeri, Washington mengesahkan tindakan hukum baru terhadap 60 entitas, individu, dan armada kapal internasional. Kelompok tersebut dituduh mendanai aktivitas siber, pendapatan minyak, hingga pengadaan teknologi nuklir dan rudal ilegal bagi rezim Iran.
Baca Juga: Sanksi AS ke Iran Meluas, Harga Minyak Justru Menahan Napas
Langkah represif finansial ini mengemuka di tengah manuver Presiden Donald Trump yang sedang berupaya menyepakati perjanjian baru guna mengakhiri ketegangan enam bulan terakhir. Momentum peringatan ini juga terbilang krusial karena diluncurkan tepat satu bulan sebelum rencana kunjungan resmi Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun
-
Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan
-
Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026
-
Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU
-
Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja