News / Nasional
Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:15 WIB
Sumber: Magnific.com

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali meningkat pada 2026. Hingga Juli, luas areal terdampak telah mencapai sekitar 202.000 hektare, dan hampir separuhnya terjadi hanya dalam satu bulan.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas areal terdampak karhutla sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 202.004 hektare. Dari jumlah tersebut, hampir 95.000 hektare terjadi pada Juli.

Lonjakan ini membuat perkembangan karhutla sepanjang 2026 perlu mendapat perhatian, terutama karena peningkatan sudah terlihat sebelum puncak musim kemarau tiba.

Seberapa besar peningkatannya?

Hingga Juni 2026, sistem pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat luas areal terdampak karhutla mencapai 107.465,47 hektare.

Angka tersebut sudah lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada beberapa tahun sebelumnya. Luas karhutla Januari-Juni 2026 tercatat meningkat sekitar 120% dibandingkan 2019, 110% dibandingkan 2023, dan 366% dibandingkan 2025.

Dari total areal terdampak pada Januari-Juni, sekitar 54% berada di kawasan hutan, sedangkan 46% lainnya berada di area penggunaan lain atau non-kawasan hutan.

Tambahan hampir 95.000 hektare pada Juli kemudian membuat total luas areal terdampak menjadi 202.004 hektare.

Artinya, peningkatan karhutla tahun ini bukan hanya terjadi dalam satu kejadian atau periode singkat. Lonjakan pada Juli terjadi di atas tren peningkatan yang sudah berlangsung sejak awal tahun.

Baca Juga: Enam Perusahaan Kena Sanksi, 1.511 Hektare Lahan Terbakar di Kalimantan

Mengapa karhutla meningkat?

Salah satu faktor yang meningkatkan risiko adalah kondisi cuaca yang lebih kering selama musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September. Agustus menjadi bulan dengan cakupan wilayah puncak kemarau terbesar, mencapai 369 Zona Musim atau sekitar 48,84% wilayah daratan Indonesia.

Kondisi kemarau juga diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG mencatat 437 Zona Musim atau sekitar 48,77% wilayah daratan Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Situasi tersebut dapat membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Lalu, apa kaitannya dengan El Niño?

Pada akhir Juni, indeks Niño 3.4 tercatat mencapai 1,56. Angka tersebut telah melewati ambang 1,5 yang digunakan untuk kategori El Niño kuat.

El Niño dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah sehingga kondisi menjadi lebih kering. Namun, El Niño tidak secara langsung menyebabkan kebakaran.

Risiko karhutla meningkat ketika kondisi yang lebih kering bertemu dengan sumber api dan kondisi lahan yang mudah terbakar. Karena itu, faktor cuaca merupakan salah satu bagian dari rangkaian penyebab, bukan satu-satunya penyebab kebakaran.

Mengapa Agustus-September perlu diwaspadai?

Risiko karhutla diperkirakan belum segera menurun karena Agustus-September bertepatan dengan periode puncak musim kemarau di banyak wilayah Indonesia.

BMKG memperkirakan risiko karhutla meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus-September. Sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian, termasuk Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Hingga 29 Juli 2026, BMKG juga mendeteksi 5.019 titik panas yang terutama terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Titik panas (hotspot) sendiri bukan berarti setiap titik merupakan kebakaran. Namun, data tersebut dapat digunakan sebagai indikator awal untuk meningkatkan kewaspadaan dan menentukan lokasi yang perlu dipantau lebih lanjut.

Untuk mengantisipasi peningkatan risiko, pemerintah melakukan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah.

Pemantauan BMKG mencatat kegiatan pembasahan gambut dan penanganan karhutla dilakukan sepanjang Juli hingga awal Agustus dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.

Upaya tersebut penting, tetapi tantangan pencegahan karhutla tidak berhenti pada pemadaman ketika api sudah muncul. Pemantauan titik panas, kesiapan daerah, pengelolaan lahan yang rentan terbakar, pencegahan sumber api, hingga respons cepat menjadi bagian penting dari pengendalian risiko.

BMKG memperkirakan kondisi El Niño masih dapat bertahan hingga awal 2027. Namun, dampaknya terhadap Indonesia sangat bergantung pada bagaimana fenomena tersebut berinteraksi dengan musim kemarau dan kondisi atmosfer di masing-masing wilayah.

Dengan luas areal terdampak yang telah mencapai sekitar 202.000 hektare hingga Juli, Agustus dan September menjadi periode penting untuk melihat apakah tren karhutla akan terus meningkat atau mulai terkendali.

Yang jelas, angka Juli menunjukkan bahwa karhutla 2026 bukan sekadar persoalan yang muncul di puncak musim kemarau. Tren peningkatannya sudah terlihat sejak awal tahun, sementara periode dengan risiko kebakaran tinggi masih berlangsung.

Penulis: Inesia Dian

Load More