- KH Miftachul Akhyar dan Abdul Hakim Mahfudz terpilih memimpin PBNU dalam Muktamar Ke-35 di Jombang pada Agustus 2026.
- Ketidakhadiran Gus Muhaimin saat pemungutan suara membuat kubu Buya Said kehilangan komando dan memicu kemunculan istilah Papi Umba Pakocir.
- Sidang Pleno III mengubah mekanisme pemilihan ketua umum menjadi melalui AHWA yang disetujui oleh 401 pemilik suara muktamar.
Suara.com - Gelaran Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menyisakan catatan kritis yang mendalam.
Di balik terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031, muncul istilah satir "Papi Umba Pakocir" yang menggambarkan dinamika politik di internal organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy yang akrab dipanggil Gus Lilur, seorang warga NU yang menjuluki dirinya sebagai Kiai Kampung dari Situbondo.
Dalam catatan pamungkasnya, ia menyoroti bagaimana suksesi kepemimpinan di NU kali ini dianggap tidak lepas dari pengaruh kekuatan luar dan manuver politik yang tidak terduga di detik-detik terakhir.
Fenomena Papi Umba Pakocir dan Hilangnya Gus Muhaimin
Istilah "Papi Umba Pakocir" menjadi sorotan karena dianggap merangkum situasi di lapangan saat malam penentuan muktamar. Gus Lilur menjelaskan makna di balik akronim tersebut dengan kalimat yang tajam.
"Akronim itu: Papi Umba Pakocir. Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir," tulis Gus Lilur dalam catatannya, Senin (31/8/2026).
Sindiran ini ditujukan kepada Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar, yang dianggap sebagai motor penggerak utama dukungan bagi Buya Said Aqil Siradj.
Namun, pada malam yang paling menentukan, Gus Muhaimin justru tidak berada di arena muktamar. Keberadaannya yang tiba-tiba diketahui sedang dalam perjalanan umrah membuat barisan pendukung Buya Said kehilangan komando.
Padahal, sebelumnya optimisme kubu Buya Said sangat tinggi. Dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Buya Said berhasil masuk sembilan besar dengan perolehan 273 suara.
Namun, absennya Gus Muhaimin di saat kritis menyisakan pertanyaan besar bagi para muktamirin.
"Tetapi meninggalkan gelanggang pada malam pemungutan suara, ketika ribuan orang sedang menunggu, menyisakan satu pertanyaan besar yang sampai hari ini belum terjawab: mengapa harus malam itu?" ungkap Gus Lilur.
Tudingan Intervensi dan Paket Penguasa
Kemenangan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin sering dikaitkan dengan istilah "paket penguasa".
Menurut Gus Lilur, banyak pihak menilai bahwa hasil muktamar kali ini sudah diprediksi jauh-jauh hari melalui berbagai desas-desus di kalangan nahdliyin.