-
Kebakaran hutan Kalimantan kembali memicu kabut asap pekat yang mengganggu penerbangan menuju Kuching, Sarawak.
-
Warga mengeluhkan belum adanya solusi konkret pencegahan meski krisis serupa sudah terjadi sejak 1997.
-
Penanganan krisis mendesak fokus pada tindakan pencegahan di sumber titik api, bukan sekadar adaptasi.
Suara.com - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan di Kalimantan kembali melintasi batas negara dan melumpuhkan jarak pandang di wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia Kamis (3/9/2026). Penerbangan menuju wilayah tersebut kini menghadapi ancaman keselamatan serius akibat pekatnya polusi udara yang menutup pandangan daratan.
Kondisi udara beracun ini membuktikan lemahnya pencegahan krisis lingkungan regional yang terus berulang tanpa penanganan permanen. Bencana ekologis bulanan ini kembali mengulang pola merusak yang sama persis seperti tiga dekade lalu.
Peningkatan titik api di daratan Indonesia terus menyuplai asap tebal ke wilayah tetangga setiap musim kemarau tiba. Dampaknya tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat lokal, tetapi juga langsung memukul sektor pariwisata dan logistik udara.
Pengalaman buruk tersebut dirasakan langsung oleh Jennifer Kang, seorang pengunjung asal Malaysia yang terbang menuju Sarawak pada Minggu sore. Pemandangan dari jendela pesawat tempatnya duduk sepenuhnya tertutup jelak pekat saat burung besi itu berusaha mendarat.
Jennifer Kang menceritakan keparahannya saat pesawatnya mulai turun di landasan pacu.
"Kami tidak bisa melihat apa pun di bawah kami," kata Jennifer Kang.
Kejadian pekan ini membongkar memori kelam krisis asap hebat tahun 1997 yang pernah melumpuhkan perekonomian kawasan. Kala itu, aktivitas warga terhenti total akibat langit Sarawak tertutup jelaga hitam selama bertandak-tandak bulan.
Sektor penerbangan dan industri pelancongan mati suri akibat pembatalan massal jadwal penerbangan internasional. Dampak finansial dan sosial yang ditimbulkan dari bencana udara masa lalu itu terbukti sangat menghancurkan.
Jennifer Kang mengingat kembali krisis kabut asap 1997 yang melumpuhkan seluruh aktivitas wilayah tersebut.
"Situasi itu berlangsung begitu lama hingga kami merasa seolah tak bisa melihat langit. Sungguh mengerikan. Ekonomi melambat, pariwisata terhenti, dan penerbangan dibatalkan. Dampaknya benar-benar melumpuhkan," kenangnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi pemantauan titik api sebenarnya sudah berkembang pesat dibanding 30 tahun silam. Namun, pemahaman terkait dalang dan tata cara pencegahan kebakaran belum mampu menghentikan tradisi polusi tahunan ini.
Kegagalan penegakan hukum dan komitmen lintas negara membuat masyarakat terus menjadi korban asap beracun yang sama. Situasi darurat ini membuktikan belum adanya langkah konkret yang melampaui sekadar imbauan di atas kertas.
Jennifer Kang menyayangkan ketidakmampuan penanganan krisis yang seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak jauh hari.
"Tiga puluh tahun kemudian, kita tahu jauh lebih banyak. Kita tahu apa penyebab kebakaran tersebut. Kita tahu cara mencegahnya dengan lebih baik. Namun, kenyataannya saat ini kita masih menghadapi kualitas udara yang sangat buruk. Ini tidak wajar," tegas Jennifer Kang.
Tuntutan publik kini bergeser dari sekadar cara bertahan hidup di tengah kepungan asap menuju aksi nyata pencegahan di hulu. Pemerintah regional didesak menindak tegas pelaku pembakaran lahan tanpa kompromi diplomasi yang melunak.