News / Nasional
Selasa, 08 September 2026 | 09:08 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra. [Tangkapan layar]
Baca 10 detik
  • Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra menegaskan dirinya hanya berstatus sebagai narasumber wawancara dalam buku Islam ala Prabowo.
  • Kontroversi publik terjadi akibat judul buku yang disusun penerbit, bukan karena isi buku yang dibaca secara utuh.
  • Buku tersebut diluncurkan oleh Baznas di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 2025 yang lalu.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan dirinya hanya berstatus sebagai narasumber dalam buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.

Ia membantah memiliki peran sebagai sponsor maupun pihak yang menginisiasi penerbitan buku tersebut.

“Posisi saya dalam buku itu jelas sebagai orang yang diwawancarai. Saya bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya,” tegas Yusril dikutip dari ANTARA, Selasa (8/9/2026).

Yusril mengaku tidak pernah diajak membicarakan maupun dimintai pendapat terkait judul buku yang kembali menjadi perhatian publik tersebut.

Menurut dia, kontroversi yang muncul belakangan lebih banyak dipicu oleh judul buku yang dinilai dapat menimbulkan beragam persepsi dan tafsir.
Sementara keputusan mengenai judul sepenuhnya merupakan kewenangan pihak yang menyusun dan menerbitkan buku.

“Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam,” ujar Yusril.

Yusril juga menilai perdebatan mengenai buku tersebut perlu dilihat dalam konteks kebiasaan masyarakat saat ini dalam mengonsumsi informasi.
Menurutnya, banyak orang cenderung hanya membaca judul tanpa memahami isi buku secara utuh.

“Sekarang orang cenderung tidak sabar membaca buku yang cukup panjang. Judulnya dibaca, lalu dianggap sudah mewakili seluruh isi buku," tuturnya.

Setelah itu, kata dia, penilaian kerap diberikan berdasarkan sudut pandang, bahkan kepentingan masing-masing.

Baca Juga: Bukan Buat Perang! Kapal Induk Hibah Italia Mau Dipakai Prabowo untuk Tangani Karhutla

Karena itu, Yusril mengingatkan agar penilaian terhadap sebuah buku, terutama karya yang bersifat akademik, tidak hanya didasarkan pada judul atau potongan informasi yang beredar.

“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan saksama,” ungkap Yusril.

Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. [Suara.com/istimewa]

Nama Yusril di Hak Cipta

Selain membantah sebagai sponsor, Yusril juga mengaku tidak pernah diajak membicarakan pencantuman namanya dalam bagian hak cipta buku tersebut.

Ia menilai pencantuman namanya perlu dilihat secara proporsional mengingat buku itu melibatkan banyak penulis dan sumber, termasuk dirinya sebagai narasumber wawancara.

"Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya, tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta,” ujarnya.

Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Dalam keterangan Baznas dan pemberitaan saat peluncuran, penulisan buku tersebut disebut diinisiasi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Haji Anwar Iskandar.

Load More