- Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara mendeteksi tiga bakteri berbahaya pada sampel makanan Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Karo.
- Anggota DPR Nurhadi mendesak pemerintah memberikan pengobatan tuntas dan membuka hasil investigasi kasus keracunan secara transparan.
- Nurhadi menuntut audit menyeluruh terhadap penyedia makanan serta penegakan hukum tegas jika terbukti terdapat unsur kelalaian.
Suara.com - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tak hanya menyisakan persoalan jumlah siswa yang jatuh sakit. Hasil pemeriksaan laboratorium juga menemukan tiga jenis bakteri dalam sampel makanan yang disajikan kepada siswa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara tertanggal 16 Agustus 2026, sampel makanan tersebut dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli).
Bakteri Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Nurhadi, menegaskan bahwa temuan itu tidak bisa dianggap biasa. Terlebih setelah salah satu korban, siswi berusia 16 tahun berinisial FP, dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga tidak lagi mengenali guru maupun teman-teman sekelasnya.
“Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius, karena keselamatan dan masa depan anak tidak boleh menjadi risiko dari sebuah program pemerintah,” ujar Nurhadi di Jakarta (10/9/2026).
Dengan adanya temuan bakteri tersebut, Nurhadi meminta pemerintah memastikan seluruh korban memperoleh pemeriksaan dan pengobatan secara menyeluruh. Ia juga meminta hasil investigasi dibuka kepada orang tua korban dan masyarakat.
“Seluruh korban harus mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara tuntas, termasuk pemantauan dampak kesehatan jangka panjang, bukan hanya sampai gejala akutnya hilang. Pemerintah juga harus membuka hasil investigasi secara transparan kepada orang tua korban maupun masyarakat,” tegasnya.
Nurhadi kemudian meminta audit terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyediakan makanan MBG di wilayah tersebut.
Menurutnya, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kondisi dapur SPPG, tetapi perlu menelusuri seluruh proses yang dilalui makanan sebelum dikonsumsi siswa.
Baca Juga: Tanggapi Kasus Keracunan MBG di Toraja, Mitra SPPG: Udah Tahu Bau, Kenapa Masih Dimakan?
“Harus dilakukan audit total terhadap SPPG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, distribusi, transportasi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa,” jelasnya.
Nurhadi juga mengingatkan agar persoalan tersebut tidak berhenti pada pencopotan kepala SPPG. Apabila investigasi dan bukti ilmiah nantinya menemukan adanya unsur kelalaian, ia meminta proses hukum dan pertanggungjawaban dijalankan sesuai aturan.
Di sisi lain, Nurhadi tetap menilai MBG sebagai program pemerintah yang penting. Namun, ia menekankan persoalan keamanan makanan tidak boleh dikesampingkan dalam pelaksanaannya.
“Program MBG adalah program yang baik dan sangat penting, tetapi program yang baik tidak boleh mengorbankan keselamatan penerimanya. Prinsipnya sederhana: lebih baik makanan terlambat diberikan daripada makanan yang tidak aman diberikan kepada anak-anak,” ungkapnya.
Komisi IX DPR RI, kata Nurhadi, akan mengawal kasus Karo agar menjadi bahan evaluasi untuk memperketat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG di daerah lain.
Berita Terkait
-
Tanggapi Kasus Keracunan MBG di Toraja, Mitra SPPG: Udah Tahu Bau, Kenapa Masih Dimakan?
-
Heboh Di Sini Porsi MBG Diangap Tak Layak, Pihak Sekolah Dilarang Bicara ke Media
-
Intip Bobroknya MBG di India: Temuan Anak Ular, Detergen Jadi Garam hingga Satu Siswa Meninggal
-
Kasus Keracunan MBG Jadi Sorotan, Menteri PPPA Minta Program Tak Dinilai Sepotong-Sepotong
-
Korbannya Tembus 50 Ribu, Keracunan Massal Program MBG Kini Ancam Psikologis Anak
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Review Film The Runner: Aksi Mencekam Gal Gadot Menyusuri Kota London!
-
Kerim Memija Paham Panasnya Persija Jakarta vs Persib: Macan Kemayoran Wajib Menang
-
Belajar dari Perjalanan Irish Bella, Pentingnya Dukungan Emosional dalam Menjalani IVF
-
MBG di Karo Positif 3 Bakteri, DPR Desak Audit Total hingga Proses Hukum
-
Saat Mikroalga dari Kawah Gunung Jadi Alternatif Penyerap Karbon, Bagaimana Caranya?
-
Sepeda Listrik Berapa Jauh Jarak Tempuhnya? Cek 3 Rekomendasi E-Bike untuk Komuter
-
Insiden Kampus UB Malang: Mahasiswa FK Jatuh dari Lantai Enam, Polisi Telusuri Motif
-
Doa Bersama Mengiringi Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
-
Bedak Two Way Cake Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihannya
-
Tiga ASN Pemkab Jayawijaya Tewas Ditembak KKB, Polisi Buru Pelaku