Laut Raja Ampat Tercemar Tambang, Greenpeace Ungkap Dampaknya bagi Nelayan Adat

Senin, 14 September 2026 | 19:23 WIB
Pertambangan di Raja Ampat. (instagram/@greenpeace.id)
  • Greenpeace Indonesia menyatakan aktivitas tambang di Raja Ampat merusak lingkungan perairan setempat pada Senin, 14 September 2026.
  • Pencemaran perairan akibat kegiatan pertambangan tersebut menyebabkan nelayan masyarakat adat kesulitan menangkap ikan untuk kehidupan sehari-hari.
  • Anggi Putra Prayoga menegaskan dampak pertambangan ini secara langsung mengganggu keberlangsungan hidup masyarakat adat di wilayah terdampak.

Suara.com - Greenpeace Indonesia menyoroti dampak aktivitas pertambangan di Raja Ampat terhadap kehidupan masyarakat adat, khususnya nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil perairan di wilayah tersebut.

Forest Campaigner Greenpeace Indonesia Anggi Putra Prayoga mengatakan, aktivitas pertambangan di sejumlah pulau di Raja Ampat telah berdampak terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Ini juga berdampak kepada nelayan-nelayan masyarakat adat yang tinggal di sana,” ujar Anggi kepada Suara.com di PTUN Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Anggi, dampak tersebut salah satunya dirasakan dari kondisi perairan yang tercemar.

Kondisi itu kemudian menyulitkan masyarakat untuk menjalankan aktivitas menangkap ikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Karena perairannya tercemar, karena itu mereka kesulitan untuk menangkap ikan,” katanya.

Anggi menegaskan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat adat yang berada di wilayah terdampak aktivitas pertambangan.

“Ini juga mempengaruhi dalam kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya. (Reporter : Agustin Dwi Anggraini)

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com