- Tim SAR gabungan mendatangi sekitar Gunung Anak Krakatau pada Selasa untuk memeriksa laporan media sosial tentang keberadaan kapal cepat Arupadhatu 1.
- Hasil pemeriksaan langsung menggunakan *sea reader* dan *drone* menunjukkan objek kapal yang membawa delapan orang tersebut tidak ditemukan.
- Operasi SAR hari kesembilan akan dilanjutkan Rabu dengan mengerahkan 20 armada karena delapan korban masih belum ditemukan.
Suara.com - Harapan menemukan kapal cepat Arupadhatu 1 kembali muncul setelah tim SAR gabungan mendapat informasi mengenai dugaan keberadaan kapal yang membawa delapan orang di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK).
Informasi tersebut bahkan ditindaklanjuti dengan mengerahkan armada dan perangkat pencarian hingga sekitar 500 meter dari pesisir gunung api di Selat Sunda.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan langsung, objek yang dilaporkan melalui media sosial itu tidak ditemukan.
"Tim SAR di lapangan sempat menurunkan sea reader dan menerbangkan drone dengan jarak kurang lebih 500 meter dari pesisir Gunung Anak Krakatau untuk menindaklanjuti informasi yang beredar. Namun, setelah di-cross check, hasilnya masih nihil," kata Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa petang.
Lokasi yang diperiksa berada di perairan timur laut Pulau Panaitan menuju pesisir Gunung Anak Krakatau. Area tersebut masuk dalam sektor C pencarian.
Basarnas mengerahkan KN SAR Tetuka bersama sejumlah armada laut lainnya untuk memastikan informasi mengenai dugaan kapal Arupadhatu 1 tersebut.
Informasi awal diterima Posko Utama SAR melalui unggahan media sosial yang menyebut adanya dugaan objek kapal cepat Arupadhatu 1 di kawasan tersebut.
"Jadi teman-teman di lapangan bermain dengan waktu untuk memastikannya dengan informasi yang kami dapatkan dan setelah mereka melakukan cross check tentang informasi tersebut itu hasilnya nihil," kata dia menegaskan.
Pemeriksaan terhadap informasi tersebut menjadi salah satu upaya tim SAR memastikan setiap laporan yang berpotensi mengarah pada keberadaan korban.
Namun, pencarian di lima sektor lainnya juga belum membuahkan hasil. Termasuk penyisiran yang diperluas hingga perairan Lampung serta wilayah Pulau Enggano, Bengkulu.
"Penyisiran perairan dari setiap sektor lain yang berlangsung 9-10 jam. Juga nihil," kata dia menambahkan.
Dengan belum ditemukannya delapan orang tersebut, operasi SAR akan kembali dilanjutkan pada Rabu (16/9), memasuki hari kesembilan.
Sedikitnya 20 armada unsur utama SAR akan kembali dikerahkan, termasuk kapal SAR Basarnas, kapal TNI Angkatan Laut, dan kapal Polairud Polda Banten.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Mereka dilaporkan hilang kontak saat melakukan pelayaran untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dari wilayah Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB.
Dalam menjalankan pencarian, tim SAR tetap mempertimbangkan faktor keselamatan. Pergerakan armada dilakukan berdasarkan pemantauan prakiraan cuaca dan gelombang laut dari BMKG serta perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan rekomendasi berkala PVMBG.