Analis Asing: Karhutla Indonesia 34 Persen Lebih Parah dari 2019, 12 Juta Orang Terdampak

Kamis, 17 September 2026 | 13:13 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: Istockphoto.com
  • Hampir 900.000 hektare lahan di Indonesia terbakar pada delapan bulan pertama tahun 2026.
  • Kementerian Kesehatan mencatat 12,5 juta warga menderita gangguan pernapasan dan lebih dari 1.700 jiwa meninggal.
  • David Gaveau menyarankan pemerintah menghentikan pembabatan hutan serta menindak tegas perusahaan pelanggar aturan kebakaran.

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali mencapai skala mengkhawatirkan. Dalam delapan bulan pertama 2026, hampir 900.000 hektare lahan dilaporkan hangus akibat kebakaran.

Angka tersebut bahkan 34 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019, ketika Indonesia dilanda salah satu musim kebakaran terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan manusia. Seekor orangutan ditemukan dalam kondisi kritis di Ketapang, Kalimantan Barat, setelah diduga mengalami gangguan pernapasan akibat kepungan asap.

Kondisi serupa juga menghantam masyarakat. Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan sekitar 12,5 juta orang mengalami gangguan pernapasan berat, terutama di Kalimantan dan Sumatra, akibat kebakaran hutan dan lahan gambut.

Ilustrasi kebakaran hutan (Unsplash/Dirk Erasmus)

Katherine Hasan dari Crea, pusat penelitian mengenai udara sehat dan bersih, mengatakan lonjakan kabut asap di wilayah terdampak sangat besar.

“Jutaan orang menghirup udara yang sangat buruk,” ujarnya dikutip dari laporan media Belanda, Trouw.

Ia juga menyebut lebih dari 1.700 orang telah meninggal di lima wilayah yang paling parah terdampak, berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut.

Analis David Gaveau dari Nusantara Atlas memantau kebakaran Indonesia melalui citra satelit.

Menurut perhitungannya, hampir 900.000 hektare lahan telah terbakar dalam delapan bulan pertama tahun ini.

“Dalam delapan bulan pertama, hampir 900.000 hektare terbakar. Itu 34 persen lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada tahun bencana El Niño 2019,” kata Gaveau.

Pada 2019, sekitar 2,6 juta hektare lahan di Indonesia dilaporkan terbakar.

Gaveau memperingatkan kondisi tahun ini berpotensi semakin buruk seiring berlanjutnya musim kering.

Gaveau menilai perubahan fungsi hutan menjadi salah satu faktor penting yang memperbesar risiko kebakaran.

“Di hutan rimba tidak ada kebakaran hutan, kebakaran hanya terjadi di kawasan yang telah ditebang,” katanya.

Gaveau mendorong pemerintah mengambil langkah lebih tegas untuk mencegah kebakaran berulang.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com