- Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan program AI Talent Factory untuk mencetak pengembang teknologi kecerdasan buatan.
- Program kolaborasi kampus ini melatih mahasiswa terpilih menyelesaikan berbagai kasus nyata melalui proyek berbasis kecerdasan buatan.
- Hasil pengembangan teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu pemerintah menangani berbagai persoalan seperti pendidikan dan judi online.
Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan program AI Talent Factory untuk mencetak talenta yang tidak hanya mampu menggunakan (AI), tetapi juga mengembangkan teknologi tersebut.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengatakan pengembangan talenta AI dilakukan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta sejumlah perguruan tinggi.
"Kita membangun apa yang kita sebut sebagai AI Talent Factory. Ini sudah berjalan di dua universitas, tiga saat ini, di Indonesia. Jadi ada di Universitas Brawijaya, lalu Universitas Gadjah Mada, dan segera ITS di Surabaya akan bergabung juga dalam program AI Talent Factory ini," kata Nezar dalam acara IABC Indonesia Conference 2026, Jumat (18/9/2026).
Menurut Nezar, program tersebut dirancang agar mahasiswa tidak berhenti sebagai pengguna teknologi AI.
Mereka diarahkan untuk menjadi pihak yang mampu membangun solusi berbasis AI.
"Kelebihan program AI Talent Factory, dia bukan hanya mendidik para pesertanya untuk menjadi pengguna, tapi untuk menjadi pelembaga, AI," tegasnya.
Peserta program berasal dari mahasiswa jenjang sarjana maupun pascasarjana yang diseleksi sebelum mengikuti program. Mereka kemudian diberikan sejumlah kasus yang harus diselesaikan menggunakan teknologi AI.
"Mereka yang masuk dalam program ini adalah mahasiswa-mahasiswa, baik level pasca-sarjana maupun sarjana, diseleksi dengan cukup ketat, lalu masuk dalam satu kelas, diberikan satu use case atau beberapa use case, setiap kampus use case-nya berbeda, diberikan waktu, misalnya 6 bulan. Ada juga yang berlanjutan batch 1 dan batch 2, setiap batch itu sekitar 1 semester, bulanan," tuturnya.
Nezar mengatakan hasil pengembangan mahasiswa tersebut tidak berhenti sebagai proyek pembelajaran.
Sejumlah solusi dicoba diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi pemerintah.
Salah satu contohnya adalah pengembangan Learning Management System (LMS) berbasis AI yang dikaitkan dengan program Sekolah Rakyat.
Menurut Nezar, sistem tersebut diharapkan dapat membantu siswa belajar di luar jam sekolah dengan menyediakan tutor berbasis AI.
"Sehingga anak-anak yang belajar di Sekolah Rakyat, ketika mereka ingin belajar sendiri, di luar waktu atau jam-jam sekolah, itu bisa mendapatkan teman atau tutor AI, bagaimana belajar lebih intens, lebih mendalam, dan AI dengan cerdas bisa juga menangkap sisi-sisi emosional dan personal dari si penggunanya," harap Nezar.
Selain pendidikan, sejumlah use case lain juga dikembangkan. Nezar menyebut salah satunya berkaitan dengan pendeteksian misinformasi dan disinformasi.
Komdigi juga mencoba memanfaatkan AI untuk membantu menangani judi online, mulai dari proses crawling hingga deteksi dan identifikasi.