- AS resmi mengumumkan penempatan senjata di luar angkasa untuk kali pertama.
- Penyiapan senjata di luar angkasa memicu kekhawatiran dan ketegangan geopolitik global.
- China mendesak AS menghentikan pengerahan senjata di luar angkasa demi perdamaian.
Suara.com - Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah memiliki senjata yang dapat digunakan di ruang angkasa. Dengan terbatasnya informasi yang diberikan persenjataan di luar angkasa ini menjadi perhatian internasional.
Menurut penjelasan Menteri Angkatan Udara Troy Meink pada Senin lalu (14/9/2026), pernyataan ini menjadi pengakuan resmi pertama bahwa negara tersebut menempatkan kemampuan tersebut di orbit, sekaligus berfungsi sebagai peringatan bagi pihak-pihak yang berpotensi menjadi ancaman regional AS.
Dikutip dari CNN, Meink tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terkait senjata-senjata tersebut, ketika dimintai keterangan ia menolak untuk memberikan detail tambahan mengenai kapan senjata-senjata tersebut diluncurkan ke orbit Bumi.
Jika pengungkapan ini ditujukan sebagai bentuk gertakan (deterrent) untuk memperingatkan musuh atas kemampuan respons AS di ruang angkasa, ambiguitas dari pernyataan Meink justru dapat mengurangi efektivitas pesan tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Clayton Swope, mantan pejabat CIA yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Aerospace Security Project di CSIS.
Upaya Militerisasi Luar Angkasa
Dikutip dari Science News, penggunaan senjata di luar angkasa bukanlah hal yang baru. Pada 1962, uji coba nuklir Amerika Serikat di luar angkasa sempat melumpuhkan sejumlah satelit yang beroperasi.
Peristiwa ini memicu lahirnya Perjanjian Luar Angkasa 1967 yang melarang pengerahan senjata pemusnah massal di orbit.
Kendati demikian China dan Rusia telah beberapa kali menguji coba senjata setipe sebagai bagian dari modernisasi militer dan menjadikan ruang angkasa sebagai medan perang masa depan.
Diyakini, dominasi di ruang angkasa akan menentukan pemenang suatu konflik.
Pimpinan militer AS telah memberi peringatan tegas terhadap kedua negara tersebut.
Washington menyoroti simulasi pertempuran antar satelit oleh Rusia dan proyek rudal hipersonik orbit parsial berkapasitas nuklir yang digarap China merupakan suatu ancaman secara tidak langsung.
Walau Perjanjian Luar Angkasa 1967 mengecam keras penggunaan senjata nuklir di wilayah sekitar orbit, aturan tersebut tidak melarang persenjataan konvensional di luar angkasa.
Hal ini menyisakan ruang abu-abu yang bebas ditafsirkan oleh tiap negara.
Belum ada kepastian mengenai jenis senjata yang ditempatkan AS di orbit. Swope mengindikasikan bahwa ini bisa berupa instrumen pengacak sinyal, persenjataan penyerang target di darat, atau teknologi anti-satelit (ASAT) penghancur fisik.
Namun, penggunaan ASAT dianggap paling berbahaya karena sampah sisa puing-puing hasil ledakannya berpotensi bertahan bertahun-tahun serta memicu tabrakan beruntun dengan satelit-satelit terdekat.
Merespons tindakan AS, China mendesak AS untuk menghentikan ekspansi militer di antariksa demi menjaga stabilitas perdamaian dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa China berkomitmen pada pemanfaatan luar angkasa secara damai dan menolak keras perlombaan persenjataan maupun upaya menjadikan luar angkasa sebagai medan pertempuran.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah