Eropa di Ambang Perang? Negara-negara NATO Siaga Satu Hadapi Ancaman Rusia

Minggu, 20 September 2026 | 09:11 WIB
Vladimir Putin [Xinhua]
BACA 10 DETIK
  • Berbagai negara Eropa meningkatkan kesiapan militer dan sipil untuk mengantisipasi potensi eskalasi ancaman serta operasi hibrida dari Rusia terhadap anggota NATO.
  • Pemerintah di kawasan Eropa mengambil langkah antisipatif seperti memperkuat infrastruktur, menyiapkan rumah sakit darurat, memperbarui evakuasi, dan memperketat pertahanan udara di perbatasan.
  • Peningkatan kewaspadaan ini merespons lonjakan insiden hibrida, peringatan intelijen, serta perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina sejak Februari 2022.

Presiden Finlandia Alexander Stubb, saat berbicara kepada MTV news Finlandia, juga mengingatkan warganya bahwa "layak untuk mempersiapkan mental menghadapi sesuatu yang akan terjadi," yang merujuk pada potensi tindakan sabotase dan aktivitas drone Rusia di wilayah mereka.

Latihan militer juga semakin diakselerasi di sekitar Laut Baltik. Pasukan Jerman dilaporkan telah bergabung dengan angkatan bersenjata Swedia untuk melakukan latihan bersama di pulau Gotland, Swedia, menyusul latihan NATO yang sebelumnya digelar di dekat eksklave Kaliningrad bulan lalu.

Di pihak lain, Belarusia sebagai sekutu utama Moskow menggelar latihan militer selama empat hari pada minggu ini. Latihan tersebut mencakup area-area yang berbatasan langsung dengan negara anggota NATO, yakni Polandia dan Lituania. Kementerian Pertahanan Belarusia menggambarkan manuver militer tersebut "sifatnya sangat defensif," dan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas militer dalam mempertahankan "kedaulatan dan integritas teritorial."

Ketegangan di sayap timur NATO ini memang bukan tanpa alasan. Rentetan konfrontasi dan dugaan operasi rahasia Rusia terus memicu kekhawatiran bahwa Moskow semakin berani menguji batas kesabaran aliansi tersebut.

Beberapa insiden terbaru mencakup penembakan jatuh drone Rusia oleh jet NATO di atas Lituania, hingga insiden kapal perang Rusia yang menembakkan suar ke arah helikopter militer Denmark. Otoritas keamanan Jerman bahkan telah mengaitkan seorang terduga agen Rusia dengan percobaan serangan drone di bandara Leipzig, sebuah peristiwa yang oleh Uni Eropa dicap memiliki ciri-ciri "terorisme yang disponsori negara."

Merujuk pada data dari Sahaidachnyi Security Center yang berbasis di Ukraina sebagaimana dikutip oleh Politico, tercatat ada 100 insiden hibrida yang secara resmi dikaitkan dengan Rusia di seluruh Eropa antara Januari hingga Agustus. Angka ini melonjak tajam dari 60 insiden pada periode yang sama tahun lalu.

Seorang pejabat senior NATO menyatakan kepada media tersebut bahwa angka sebenarnya kemungkinan besar melampaui 200 insiden, belum termasuk serangan siber, seraya menegaskan, "Jumlahnya meningkat, tingkat keparahannya meningkat, selera risiko [Rusia] meningkat."

Laporan penilaian intelijen AS yang dirilis oleh The Wall Street Journal pada bulan Agustus juga menemukan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin akan mencoba menguji NATO dengan serangan terbatas terhadap salah satu negara anggota dalam beberapa tahun mendatang.

Skenario yang diperkirakan mencakup serangan siber hingga serangan darat skala kecil. Laporan tersebut menilai bahwa kemungkinan serangan darat terbatas saat ini memang rendah, namun grafiknya diproyeksikan akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Pada akhir bulan yang sama, Direktur CIA John Ratcliffe dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Moskow untuk memberikan peringatan keras kepada pejabat Rusia agar tidak menyerang anggota NATO, dengan penekanan khusus pada wilayah Estonia, Latvia, dan Lituania.

Bersamaan dengan meningkatnya eskalasi di lapangan, Rusia juga semakin mempertajam retorika publiknya. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov memperingatkan secara lantang pekan ini bahwa setiap serangan yang dilakukan NATO ke wilayah Rusia akan berujung pada perang yang "sangat singkat".

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com