Spontan Tapi Tak Bermutu, Sentilan Pedas Ryaas Rasyid untuk Pidato Prabowo

Selasa, 22 September 2026 | 13:23 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara Puncak Peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat, (18/9/2026). (Foto: Sekretariat Presiden)
BACA 10 DETIK
  • Presiden Prabowo Subianto menyebut pakar goblok dalam pidatonya di JCC Jakarta pada Jumat, 18 September 2026.
  • Prof. Ryaas Rasyid menilai pernyataan tersebut menunjukkan sikap antiintelektual karena merendahkan kelompok pakar secara umum di ruang publik.
  • Ryaas menyatakan kritik sebaiknya ditujukan kepada individu tertentu agar tidak memicu reaksi luas dan menurunkan kualitas kepemimpinan.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan setelah menyampaikan pernyataan mengenai sejumlah pakar saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung pihak yang disebutnya sebagai pakar. Ia kemudian melontarkan pernyataan, “Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.”

Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi mantan Ketua Reformasi Politik Nasional Prof. Ryaas Rasyid.

Ryaas mengaku tidak terlalu terkejut mendengar ucapan tersebut. Ia mengaitkannya dengan kebiasaan Prabowo yang menurutnya beberapa kali menggunakan umpatan ketika berbicara di hadapan publik.

“Saya sebenarnya tidak terlalu kaget karena kan sudah berkali-kali mengumpat, karena salah satu kebiasaan beliau ini mengumpat,” kata Ryaas, dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (22/9/2026).

Menurut Ryaas, seorang pemimpin perlu memperhatikan cara menyampaikan kritik terhadap pihak lain, terlebih ketika pernyataan tersebut disampaikan di ruang publik.

Ia menilai seorang pemimpin tidak semestinya menggunakan perkataan yang dianggapnya merendahkan pihak lain secara umum.

“Karena enggak bisa begitu saja pemimpin itu melecehkan pihak lain apalagi secara umum,” ujar Ryaas.

Ryaas kemudian menjelaskan bahwa pernyataan yang ditujukan kepada kelompok secara umum dapat membuat seluruh pakar merasa perlu memberikan respons.

Menurutnya, kritik akan lebih jelas apabila diarahkan kepada pihak tertentu yang memang dimaksud.

“Kalau dia sebut satu nama saja lebih bagus, ini kan umum semua pakar itu harus bereaksi. Jadi menurut saya ini sesuatu yang spontan tetapi tidak bermutu sama sekali, tidak menggambarkan kualitas pemimpin,” kata Ryaas.

Penilaian Ryaas kemudian mengarah pada persoalan sikap terhadap kalangan intelektual.

Saat ditanya apakah ucapan tersebut dapat dikaitkan dengan sikap antikritik dan antiintelektual, Ryaas menyatakan bahwa dirinya menilai pernyataan tersebut menunjukkan sikap antiintelektual.

“Anti intelektual iya betul, itu pasti anti intelektual tapi dia kan tidak terlalu peduli,” ujar Ryaas.

Reporter : Agustin Dwi Anggraini

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com