Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja

Rabu, 04 November 2026 | 12:10 WIB
Jokowi saat masih menjadi Presiden ke-7 RI dan Listyo Sigit Prabowo saat masih menjabat sebagai Kapolri.
BACA 10 DETIK
  • Mantan Kapolri Listyo Sigit beserta dua jenderal ditahan di Mabes Polri Jakarta Selatan pada 2025–2026.
  • Mereka terbukti melakukan penyadapan ilegal terhadap gawai Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tanpa izin pengadilan.
  • Praktik spionase tersebut memanfaatkan peladen Lawful Interception Management System milik Polri secara tanpa hak.

Suara.com - Penetapan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, menyuguhkan satu babak paling ironis dalam sejarah suksesi kekuasaan Indonesia.

Di Markas Besar Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Listyo dan dua jenderal aktif resmi ditahan di rutan setelah ketahuan membajak peladen Lawful Interception Management System (LIMS) sepanjang kurun 2025–2026.

Penyadapan liar itu, menyasar langsung gawai Prabowo Subianto, sejumlah pejabat teras kabinet, hingga pimpinan partai politik tanpa selembar pun surat izin pengadilan.

Prabowo tidak sendirian. Sebelumnya, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono juga mengakui pernah menjadi korban penyadapan liar.

Begitu pula Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi, yang mengakui pernah menjadi korban penyadapan bermotif politik.

Tiga 'Kutu' di Rumah Dinas Taman Suropati

Jauh sebelum institusi kepolisian dituding menyadap kepala negara, Jokowi pernah berada di posisi sebaliknya: target yang dibidik.

Kisah itu bermula pada pengujung 2013, saat aroma persaingan Pemilu Presiden 2014 mulai menyengat dan nama Gubernur DKI Jakarta tersebut melesat ke puncak survei elektabilitas.

Di kediaman dinasnya di kawasan elite Menteng, tepatnya Jalan Taman Suropati Nomor 7, Jakarta Pusat, sebuah penyisiran rahasia digelar.

Hasil pemindaian detektor memicu kegaduhan internal. Tiga unit alat sadap berukuran mini—lazim disebut kutu penyadap—ditemukan terpasang rapi di sudut-sudut paling privat sang gubernur.

Setelah sempat bungkam selama berbulan-bulan, Jokowi akhirnya angkat bicara di hadapan jurnalis pada Kamis, 20 Februari 2014.

"Ya sudah lama. Cuma kan saya hanya diam. Bulan Desember itu, sudah lama," kata Jokowi kepada awak media Kamis 20 Februari 2014.

Kala itu, Jokowi menolak merinci siapa aktor di balik pemasangan maupun tim yang diterjunkan untuk mendeteksi frekuensi gelap di rumah dinasnya. Namun, ia tak menampik keberadaan peranti intai di ruang-ruang terlarang tersebut.

"Kan ada detektornya ya. Tidak usahlah saya sebutkan siapa yang menemukan. Yang pasti, ditemukan bulan Desember (2013)," kata dia.

Ia mengatakan, ditemukan kutu penyadap di kamar tidur, ruang tamu, dan ruang tamu pribadi di rumah dinasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com