-
Indonesia menawarkan pengalaman damai Aceh dan Maluku sebagai model pemulihan konflik bagi PBB.
-
Menlu Sugiono menegaskan keberhasilan perdamaian harus dipimpin langsung oleh negara yang bersangkutan.
-
PBB didorong memanfaatkan pengalaman negara Global South dan teknologi dalam mencegah konflik dunia.
Suara.com - Indonesia membawa resep keberhasilan pemulihan konflik domestik ke panggung dunia sebagai solusi atas krisis global yang berkepanjangan. Keberhasilan merajut kembali persatuan di tanah Aceh serta Maluku kini ditawarkan menjadi cetak biru diplomasi internasional.
Pendekatan sosial yang mengutamakan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat terbukti ampuh meredam ketegangan antarkelompok secara permanen. Pengalaman sejarah ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan pada kawasan yang tengah bergolak saat ini.
Pemerintah menegaskan bahwa penghentian bentrokan senjata hanyalah langkah awal dari proses panjang merawat stabilitas suatu negara. Upaya memulihkan kepercayaan publik dan menata ulang institusi lokal menjadi kunci utama agar pertikaian tidak kembali pecah.
“Pengalaman Indonesia di Aceh dan Maluku menunjukkan bagaimana dialog yang berkelanjutan dan inklusif antarkomunitas dapat memulihkan kepercayaan dan menjaga persatuan nasional,” kata Menlu Sugiono seperti dikutip ANTARA di Jakarta, Jumat.
Langkah pencegahan dini harus berjalan seiring dengan program pemulihan ekonomi serta sosial di wilayah terdampak. Tanpa fondasi kemasyarakatan yang kokoh, kesepakatan di atas kertas akan sangat rentan runtuh saat timbul pemicu baru.
Setiap program pemulihan pascakonflik tidak akan berjalan efektif jika dipaksakan oleh pihak luar tanpa keterlibatan masyarakat setempat. Negara yang bersangkutan harus memegang kendali penuh atas rancangan dan pelaksanaan agenda stabilitas nasionalnya.
“Pembangunan perdamaian akan berjalan paling efektif ketika dipimpin dan dimiliki oleh negara yang bersangkutan,” katanya.
Lembaga internasional seperti Komisi Pembangunan Perdamaian (PBC) PBB idealnya bertindak sebagai fasilitator penyedia bantuan teknis dan pendanaan. Peran PBB adalah menjembatani kebutuhan konkret di lapangan dengan dukungan politik masyarakat global secara berkelanjutan.
Intervensi PBB perlu diperkuat melalui koordinasi yang lebih erat antara Majelis Umum, Dewan Keamanan, serta Dewan Ekonomi dan Sosial. Sinergi antarbadan PBB ini penting agar setiap bantuan internasional tidak tumpang tindih dan tepat sasaran.
Pengalaman dari negara-negara Global South dalam mengelola krisis internal perlu diprioritaskan sebagai rujukan utama. Pembelajaran praktis dari negara berkembang kerap kali lebih membumi dan mudah diterapkan dibanding konsep teoretis.
Pemanfaatan pemrosesan data mutakhir dan teknologi digital menjadi kebutuhan mendesak dalam memetakan potensi konflik sejak dini. Analisis data yang akurat memungkinkan badan dunia merancang langkah pencegahan yang jauh lebih presisi dan responsif.
“Indonesia akan terus bekerja sama dengan PBC dan seluruh mitra untuk semakin mendekatkan kita pada tujuan tersebut,” kata Menlu Sugiono.
Langkah diplomasi ini disampaikan langsung dalam Pertemuan Tingkat Menteri PBC yang berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, New York. Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut mempertegas komitmen aktif Jakarta dalam menjaga ketertiban dunia.
Sebagai catatan latar belakang, konflik horizontal di Maluku dan separatisme di Aceh merupakan dua ujian sejarah terberat bagi integrasi nasional Indonesia pascareformasi. Keberhasilan menyelesaikan kedua krisis tersebut melalui jalur perundingan dan pendekatan kemanusiaan kini menjadi salah satu warisan diplomasi paling berharga milik Indonesia.